KENDAL – Gajah jantan bernama Ludo, penghuni obyek wisata Curugsewu di Kecamatan Patean diketahui meninggal Senin (23/11). Gajah yang sudah meramaikan obyek wisata selama 11 tahun ini diketahui mati karena usia yang sudah tua. Sebab, sebelum kejadian, tidak diketahui ada tanda-tanda gejala sakit.

“Gajah Ludo usianya sudah 88 tahun. Memang tubuhnya besar, bahkan makannya juga banyak. Tapi, perutnya sudah tidak mampu lagi memproses makanan secara baik karena usianya yang sudah tua,” kata Kepala UPTD Obyek Wisata Curugsewu, Prayogo, Selasa (24/11).

Dia menambahkan, Ludo merupakan gajah dari Obyek Wisata dari Kebun Binatang Gembira Loka, Jogjakarta. Sehari sebelum meninggal Ludo diketahui masih nampak sehat. “Minggu (22/11) pagi, ia masih diberi makan sama pawang dan habis. Makanannya ya biasa rumput, pisang dan gula aren,” paparnya.

Tapi tiba-tiba sekitar pukul 11.00, Ludo ambruk dan tidak bisa bangun. Ia kemudian memanggil Kepala Dinas Pariwisata Kendal, Agus Rifai untuk mengecek kondisi sang Ludo. “Lalu dipanggil dua dokter hewan untuk mengecek kondisi Ludo, tapi tidak bisa datang semua karena Minggu waktu libur,” kata Koordinator Lapangan Curugsewu, Budianto.

Dua dokter hewan menjanjikan akan datang pada Senin (23/11) untuk memeriksa. Tapi sebelum dokter datang, sekitar pukul 09.45, Ludo sudah menghembuskan nafas terakhirnya. “Hasil visum dokter, setelah dilakukan pembedahan dan cek darah tidak ditemukan tanda keracunan atau luka dalam,” ujar Budianto.

Ludo, merupakan gajah yang diambil dari Pusat Konservasi Gajah (PKG) Way Kambas, Lampung. Kemudian diambil oleh pengelola Bonbin Gembira Loka Jogjakarta sebelum akhirnya pada 2004 diangkut ke Curugsewu.
Sisworo, sang pawang gajah yang sehari-hari merawat dan memberi makan Ludo mengakui memang tidak ada tanda-tanda sakit. “Ya tiba-tiba langsung ambruk.

Sebelum dimakamkan, petugas harus mengerahkan tenaga 22 orang ditambah alat berat untuk memasukkan Ludo untuk menguburnya. Jasad Ludo dimakamkan dalam galian sedalam tiga meter, yang terletak tepat di samping kandangnya. “Sedihnya tidak terkira, saya terbiasa bercanda dengan Ludo. Setiap pagi sama ludo. Meski beberapa kali saya hampir celaka karena kerap dilempar dan ditendang Ludo, tapi saya sayang menyayangi gajah itu. Kepergian ludo dia membuat saya kesepian,” ujarnya. (bud/fth)