Aksi: Sejumlah warga berunjuk rasa dengan memasang baliho penolakan kebijakan di pasar Suruh. (Dinar sasongko/jawa pos radar semarang)
Aksi: Sejumlah warga berunjuk rasa dengan memasang baliho penolakan kebijakan di pasar Suruh. (Dinar sasongko/jawa pos radar semarang)
Aksi: Sejumlah warga berunjuk rasa dengan memasang baliho penolakan kebijakan di pasar Suruh. (Dinar sasongko/jawa pos radar semarang)
Aksi: Sejumlah warga berunjuk rasa dengan memasang baliho penolakan kebijakan di pasar Suruh. (Dinar sasongko/jawa pos radar semarang)

UNGARAN – Sejumlah warga Desa Suruh melakukan aksi protes terkait dihentikannya bagi hasil retribusi pasar Suruh oleh pemerintah kabupaten setempat mulai 2016. Dengan memasang spanduk serta membagikan selebaran mereka menolak kebijakan tersebut. Menariknya, peserta aksi kebanyakan para perempuan.

Warga yang protes datang ke depan pasar Suruh sekitar pukul 09.00 kemudian membentangkan sepanduk. Diantaranya bertuliskan ‘Lawan kesewenang-wenangan. Pasar Suruh adalah milik rakyat Suruh, berdasarkan hak asal usul desa’.

Warga dan Pemerintah Desa menuntut Pemerintah Kabupaten Semarang mengembalikan aset desa berupa tanah yang dimanfaatkan untuk Pasar Suruh. Warga juga mengancam tidak menyalurkan hak pilihnya saat pemilihan kepala daerah (Pilkada) 9 Desember 2015 mendatang.