Dua Mucikari Ditahan Tarif Booking Rp 1 Juta

319

MUGASSARI – Praktik prostitusi online melalui situs jejaring sosial yang beroperasi di Kota Semarang berhasil dibongkar. Dua mucikari, masing-masing seorang wanita berinisial R dan laki-laki berinisial P ditahan penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jateng. Keduanya ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus prostitusi online tersebut.

Sedangkan korbannya berjumlah empat orang. Semuanya perempuan di bawah umur. Para gadis belia tersebut dijual dengan tarif booking short time Rp 600 ribu hingga Rp 1 juta. Saat ini, proses hukum kasus tersebut ditangani aparat Sub Direktorat IV Remaja Anak-Anak dan Wanita (Renakta) Ditreskrimum Polda Jateng.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jateng, Kombes Pol Gagas Nugraha, membenarkan terungkapnya kasus prostitusi online tersebut. ”Sudah ada tersangka, semua korbannya anak di bawah umur,” kata Gagas.

Pihaknya mengaku masih terus melakukan pengembangan penyelidikan terhadap kasus prostitusi online ini. Mengenai modusnya, kata Gagas, dilakukan oleh tersangka dengan menggunakan situs jejaring sosial Facebook.

Kepala Subdit IV Remaja, Anak dan Wanita Ditreskrimum Polda Jateng AKBP Sri Susilowati menambahkan, dalam kasus prostitusi online ini, kedua tersangka menggunakan modus yang sama, yakni memanfaatkan situs jejaring sosial Facebook untuk menawarkan para korban. Para gadis belia tersebut dijual dengan tarif per jam antara Rp 600 ribu hingga Rp 1 juta. ”Pelaku menggunakan akun Facebook pribadi,” katanya.

Saat ini, pihaknya terus melakukan pengembangan penyelidikan dan melengkapi berkas kedua tersangka. Atas perbuatannya, kedua tersangka akan dijerat UU Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Terhadap Tindak Pidana Perdagangan Orang (Human Trafficking), pasal 2 jo pasal 17 dan UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak pasal 76 huruf (i).

Kasus ini terbongkar salah satunya pada Rabu (30/9) dini hari lalu di salah satu hotel di Kawasan Gombel, Semarang. Korban setelah di-booking pelanggan kemudian menggunakan tempat di salah satu kamar hotel tersebut. Saat ini, para anak di bawah umur yang menjadi korban prostitusi online tersebut mendapat pendampingan oleh Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (BP3AKBP) Provinsi Jateng.

Aktivis Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) BP3AKB Jateng, Tri Putranti Novitasari, mengatakan, sejauh ini permohonan pendampingan yang diajukan ke pihaknya baru ada tiga korban. ”Kalau permohonan ke PPT Provinsi Jateng ada tiga korban,” katanya.