SALATIGA – Di tahun terakhir kepemimpinan Yuliyanto – Moh Haris, DPRD Kota Salatiga berencana mengajukan hak interpelasi atau bertanya kepada Pemerintah Kota Salatiga, dalam hal ini wali kota. Isu yang diangkat adalah rendahnya serapan APBD 2015 yang hingga saat ini diperkirakan baru mencapai sekitar Rp 300 miliar.

Dalam hak meminta keterangan ini, dewan berharap Pemkot Salatiga menjelaskan secara rinci dan transparan soal penyebab terjadinya Sisa Lebih Penggunaan Anggaran (Silpa) APBD 2015 Kota Salatiga. Dalam penjelasan ini, dewan ingin mendapat jawaban konkret penyebabnya.

Kalangan dewan memaparkan jika Silpa selama 4 tahun terakhir ini naik terus dari Rp 90 miliar pada 2011, menjadi Rp 130 miliar pada 2012, pada 2013 menjadi Rp 190 miliar, dan pada 2014 tercatat Rp 274 miliar. Bahkan, hingga November ini disebutkan mencapai Rp 320 miliar.

Menariknya, pengusul interpelasi ini berasal dari sejumlah partai, yang salah satunya adalah PPP yang notabene adalah partai pengusung pasangan Yuliyanto – Haris dalam Pilwalkot 2011 silam.

“Kami murni mempertanyakan mengenai Silpa. Interpelasi ini merupakan hak dewan, bukan terkait dengan pengusung atau tidak dalam Pilwalkot lalu. Ini adalah keinginan kami untuk menjadikan Salatiga lebih baik,” terang Mahmudah, anggota DPRD asal PPP saat di konfirmasi wartawan kemarin siang.

Sikap berbeda diambil PKS. Sama – sama sebagai pengusung pasangan wali kota dalam Pilwalkot lalu, empat anggota dewan PKS tidak ikut mendukung interpelasi yang digulirkan kalangan dewan lainnya. “Kita menyadari Silpa adalah permasalahan yang kompleks dan kami selaku partai pengusung memang tidak mendukung interpelasi tersebut,” terang Fathur Rahman, Wakil Ketua DPRD Salatiga.

Lebih jauh Fathur Rahman menyatakan, tidaklah bijaksana, bila masalah Silpa ini hanya ditimpakan kepada Pemkot Salatiga saja. Karena, menurut Faturahman, Silpa saat ini juga menjadi masalah hampir di seluruh pemerintah daerah di tanah air. Saat disinggung apakah ini terkait Pilwalkot 2017, Fathur Rahman mengaku tidak tahu-menahu soal itu. “Coba tanya yang lain saja,” elaknya. (sas/aro)