Kirim Tim Medis

254

UNGARAN – Kondisi SK, 48, yang semakin memprihatinkan membuat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Semarang turun tangan.Dinkes berjanji bakal mengirimkan tenaga medis untuk penanganan sementara SK, yang diduga terkena HIV/AIDS. Rencananya hari ini, petugas medis memeriksa kesehatan SK yang dikarantina di kandang kambing milik warga Susukan Krajan RT 2 RW 4, Kecamatan Ungaran Timur.

Kepala Dinkes Kabupaten Semarang, drg. Gunawan mengaku baru tahu dari pemberitaan di media massa. Sehingga pihaknya belum tahu persis kondisi kesehatan SK. Menurut Gunawan pihaknya akan segera mengirim tenaga medis dari Puskesmas terdekat untuk memeriksa kondisi kesehatan SK. “Kita akan memeriksa kesehatan SK dan memberikan penanganan sementara terhadap dia. Paling tidak dapat mencegah agar penyakitnya tidak semakin parah,” kata Gunawan, Rabu (18/11) kemarin.

Gunawan menambahkan, pemeriksaan meliputi tes HIV/AIDS dan diagnosa penyakit SK. Pihaknya menyarankan setelah pemeriksaan dan perawatan kesehatan awal, keluarga SK membawanya ke rumah sakit untuk penanganan lanjut. Jika tidak dilakukan perawatan kesehatan dikhawatirkan sakitnya akan semakin parah. “Keluarga harusnya segera membawa ke rumah sakit. Jika punya kartu Jamkesmas atau Jamkesda tidak perlu khawatir biaya. Sebab biayanya sudah ditanggung pemerintah. Jika belum punya kartu kesehatan sesegera diurus,” ungkapnya.

Pemilik kandang Kambing, Sugiyanto, 42, mengatakan, sebenarnya warga merasa iba dan berupaya membantu SK untuk pengobatannya. Bahkan pemuda-pemuda di sini berusaha cari donatur untuk membantu biaya pengobatannya. “Jika memang ada upaya dari teman-teman jurnalis dan pemerintah untuk membawa berobat ke rumah sakit kami sangat bersyukur. Namun harus kami mintakan restu dari keluarganya dulu,” kata Sugiyanto.

Relawan HIV/AIDS Kabupaten Semarang, Andreas Bambang mengatakan, orang yang menderita penyakit kelamin itu ada kemungkinan beresiko menderita HIV/AIDS. Sebab penyakit kelamin itu menjadi pintu masuk tertularnya HIV/AIDS.

“Hasil tes terhadap SK ternyata non reaktif atau negative HIV/AIDS. Namun karena perilakunya dan gejala sakitnya seperti itu kami harus melakukan pemeriksaan ulang hingga tiga kali,” kata Andreas Bambang. (tyo/fth)