Ekspor Tekstil Menurun

193

SEMARANG – Nilai ekspor Jawa Tengah bulan Oktober mengalami penurunan sebesar 0,25 persen. Yaitu dari 436,43juta USD pada bulan September menjadi 435,33 juta USD pada bulan November.

Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah, Jamjam Zamachsyari mengatakan, non-migas menjadi ekspor utama Jawa Tengah. Pada bulan Oktober, terjadi penurunan di sektor ini. “Tercatat sebesar 2,44 persen penurunan pada ekspor non migas. Yaitu dari 436,43juta USD menjadi 425,77 USD,” ujarnya, kemarin.

Penurunan terbesar, ucapnya, terjadi pada kelompok komoditas tekstil dan barang tekstil. Yaitu dari 181,89 juta USD pada September menjadi 167,16 juta USD pada Oktober. Pun halnya komoditas kayu yang mengalami penurunan. Pada September, salah satu komoditas penyumbang ekspor terbesar ini, mampu menyumbang hingga 906,6 juta USD, sedangkan pada Oktober turun menjadi 86,59 juta USD.

Penurunan tersebut, menurutnya masih belum diteliti lebih lanjut, apakah karena volume barang yang diekspor menurun, atau karena nilai jualnya yang menurun. Sehingga menyebabkan angka ekspor pun menurun dari bulan sebelumnya. “Bisa jadi turunnya memang dari volume, tapi bisa jadi juga dari nilai. Karena seperti kita ketahui, terkadang beberapa komoditi ekspor di pasar internasional mengalami penurunan harga,” jelasnya.

Sementara itu, meski menurun, untuk negara tujuan ekspor Jawa Tengah, negara pangsa pasar terbesar masih Amerika Serikat. Pada bulan Oktober, ekspor ke negara ini mencapai 102,41 juta USD, turun sebesar 17,52 juta USD dari bulan sebelumnya. Berada di urutan kedua ekspor tertinggi Jawa Tengah adalah ke negara Tiongkok. Dengan nilai ekspor sebesar 51,22 juta USD pada Oktober. Ekspor ke negara ini juga mengalami penurunan, hingga 1,15 juta USD. (dna/smu)