Terkendala Perizinan Produksi

276

BATANG-Kendati usaha galangan kapal di Desa Klidang Wetan, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang, terbesar di sepanjang jalur pantura, namun para pengusaha terkendala perizinan. Terutama surat izin produksi yang harus dimiliki untuk pembuatan satu buah kapal sebelum berlayar.

Salah satu mandor pembuatan kapal nelayan di wilayah Pantai Sigandu Batang, Agus Setiyawan mengungkapkan bahwa usaha di sektor pembuatan kapal sangat membantu para nelayan untuk menangkap hasil laut. Bahkan, sangat memungkinkan diproduksi kapal berukuran besar dalam waktu singkat.

“Kendala yang paling serius ya pembuatan surat izin pembuatan kapal. Kami harus mendapatkan izin dari pemerintah pusat. Makanya banyak kapal setengah jadi yang mangkrak, karena terkendala masalah itu,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (13/11) kemarin.

Dirinya menuturkan untuk membuat satu kapal hanya diperlukan hitungan hari. Namun, jika kapal berhasil dibuat dalam waktu 30 hari untuk ukuran besar, bila perizinannya susah, pekerja tidak jadi mendapatkan uang. “Akhirnya kami membatasi diri dalam memproduksi kapal,” imbuhnya.

Karena itulah, katanya, para pembuat kapal di pesisir Kabupaten Batang meminta Dinas Kelautan dan Perikanan mempermudah dalam perizinannya. Mengingat masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan dapat menyumbangkan devisa negara dengan hasil kelautannya yang bisa diekspor.

Sementara itu, Muchlis yang berprofesi sebagai nelayan menuturkan, kendala para nelayan dalam melaut adalah adanya pelarangan penggunaan cantrang. Sesuai dengan PermenKP No 2 Tahun 2015 yang melarangan penggunaan alat penangkapan ikan jenis pukat hela dan pukat tarik di wilayah pengelolaan perikanan RI, para nelayan masih bingung jika harus menangkap ikan tanpa alat tersebut. Sementara mereka sudah membeli cantrang yang terbilang tidak murah.