UNGARAN – Berhati-hati jika anda mencari lowongan kerja melalui internet. Jangan sampai mengalami nasibh seperti Yahya Eko Witoyo, 24, warga Karang Balon, Desa Bener, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang. Ia menjadi korban penipuan dengan modus membuka lowongan tenaga kerja (Loker). Ironsinya meski sudah melapor, tapi tak ada progress dari pihak kepolisian. Karena mulai geram akhirnya Ia berniat mengadu ke Presiden Joko Widodo. Tapi karena sulit untuk menemui presiden, ia lantas mengunggah video dan foto modus penipuan bermodus loker ke sejumlah media sosial. Tujuannya agar tidak ada warga Kabupaten Semarang dan masyarakat yang menjadi korban seperti dirinya.

Yahya Eko Witoyo menceritakan, kasus penipuan yang menimpanya itu terjadi sekitar tahun 2013. Ketika itu korban membutuhkan pekerjaan karena usahanya sedang kolep. Setelah mencari loker di internet, akhirnya menemukan loker di PT Adabter Utama. Ia lantas menghubungi nomor telepon yang tertera dan diminta langsung tes wawancara di Jakarta. “Sampai di alamat yang disebutkan pelaku, saya interview dan dimintai uang Rp 550 ribu. Alasannya untuk administrasi dan mendaftar Jamsostek. Tanpa ragu-ragu langsung saya bayar,” kata Yahya, Selasa (10/11) kemarin.

Ia mengaku curiga sebab loker PT Adabter Utama yang bergerak dibidang ekspor import barang elektronik, tapi di papan nama tertulis PT MOG. Yahya sempat menanyakan pada petugas yang melakukan interview. Tapi dijawab dengan ketus. Kecurigaan bertambah ketika ia diminta datang ke kantor berbeda yang jaraknya sekitar 5 kilometer untuk mengambil berkas. “Sebenarnya ada warga sekitar yang mengatakan bahwa saya kena tipu. Menurut warga sudah banyak orang yang tertipu kemungkinan sudah ratusan bahkan ribuan orang karena perusahaan aksi itu sudah belasan tahun berjalan. Lalu saya ambil blackberry dan merekam dan memfoto semua kegiatan di sana sebagai barang bukti,” ujarnya.

Ia selanjutnya melaporkan kasus yang dialaminya di Polsek Tebet, Jakarta. Namun saat melaporkan kasus tersebut tidak tidak ditanggapi serius petugas. Polisi beralasan kasusnya sulit diproses karena unsur pidananya tipis. Merasa jengkel dengan jawaban polisi, Yahya mendatangi kantor Gubernur DKI, Joko Widodo untuk mengadu. Tapi upayanya gagal karena saat itu Jokowi tidak ada di kantor. “Katanya sulit diusut karena saya kemakan sponsor tenaga kerja, masak kasus seperti itu tidak bisa diusut. Saya akhirnya mengadu ke kantor Jokowi, tapi tidak bisa ketemu. Semestinya kasus ini diusut agar tidak ada korban lagi. Memang kerugian per orang tergolong sedikit, namun jika korban ratusan maka uang yang masuk bisa jutaan,” tambahnya. (tyo/fth)