Sesuai Perda, Kebonharjo Jadi Terminal Peti Kemas

545
BUKTI SAH: Salah satu warga Kebonharjo menunjukkan bukti berupa fotocopy sertifikat hak milik tanah yang sah. (DOKUMENTASI/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
BUKTI SAH: Salah satu warga Kebonharjo menunjukkan bukti berupa fotocopy sertifikat hak milik tanah yang sah. (DOKUMENTASI/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
BUKTI SAH: Salah satu warga Kebonharjo menunjukkan bukti berupa fotocopy sertifikat hak milik tanah yang sah. (DOKUMENTASI/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
BUKTI SAH: Salah satu warga Kebonharjo menunjukkan bukti berupa fotocopy sertifikat hak milik tanah yang sah. (DOKUMENTASI/ JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG- Penolakan warga terhadap rencana PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) melakukan reaktivasi rel kereta api dari Stasiun Tawang hingga Pelabuhan Tanjung Emas semakin gencar disuarakan. Warga yang tergabung dalam Forum RW Kebonharjo yang paling keras melakukan penolakan.

Ketua Forum RW Kebonharjo, Suparjo, menegaskan, rencana PT KAI melakukan reaktivasi rel KA Tawang-Tanjung Emas tidak sesuai dengan izin yang diberikan. “Kalau yang namanya reaktivasi kan mengaktifkan kembali rel yang sudah lama untuk digunakan lagi. Sedangkan rel yang lama dari Stasiun Tawang-Gudang Semarang-Pelabuhan Tanjung Emas itu sudah tidak ada. Kalau yang ini, namanya pembangunan rel baru,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Semarang , Senin (9/11).

Selain masalah penggusuran rumah warga untuk reaktivasi rel KA, warga yang pada 20 April 2015 lalu mengadakan audiensi di DPRD Kota Semarang, dibuat geram dengan adanya pernyataan PT KAI yang menggunakan Perda Nomor 14 Tahun 2011. Di mana dalam pasal 20 perda tersebut menyebutkan, kawasan Kebonharjo menjadi kawasan transportasi dan kawasan Terminal Peti Kemas tipe C.