SEMARANG – Hingga dekati penghujung tahun, penjualan rumah komersil di Jawa Tengah masih jauh dari target. Kondisi ekonomi makro dinilai sebagai salah satu sebab terkendalanya permintaan unit rumah. Saat ini kondisi perekonomian sedang melambat sehingga menurunkan daya beli masyarakat.

Kepala Dewan Perwakilan Daerah (DPD) REI Jawa Tengah Bidang Promosi Humas dan Publikasi Dibya K Hidayat mengatakan, dalam setahun pihaknya menargetkan penjualan rumah komersil atau rumah yang digunakan untuk kegiatan komersial di pameran sebanyak 700 unit.

“Per pameran target kami terjual 70 unit. Selama beberapa bulan ini penjualan memang naik turun, tapi hingga dekati akhir tahun ini, baru satu pameran yang tembus target. Jadi kalau untuk menutup target hingga akhir tahun, kami rasa sulit,” ungkapnya, kemarin (8/11).

Ketidakstabilan penjualan tersebut menurutnya dipengaruhi oleh ekonomi makro secara nasional. Di mana para calon pembeli masih banyak menunggu, khususnya terhadap dampak paket-paket ekonomi. “Penjualan rumah komersil kelas menengah dan mewah memang terasa ketidakstabilannya. Nampaknya pembeli masih wait and see dengan gerakan perekonomian Indonesia,” jelasnya.

Dibya menambahkan, rumah bagi pasangan muda ataupun keluarga yang belum memiliki hunian tetap, rumah menjadi kebutuhan utama. Mau tidak mau mereka harus segera membeli rumah. Kalangan inilah yang tahun ini menjadi konsumen utama.

Sedangkan untuk rumah mewah atau rumah-rumah dengan tipe yang lebih besar, penurunan pembelian dinilai cukup terasa dibanding tahun sebelumnya. Hal tersebut dikarenakan, para calon pembeli lebih memilih untuk menunda pembelian. “Untuk pengusaha kelas menengah, jika mereka sudah memiliki rumah, maka untuk investasi pembelian rumah berikutnya banyak yang ditunda. Pun dengan mereka yang ingin memperbarui rumah ke ukuran yang lebih besar, tahun ini banyak yang pilih ditunda juga,” tandasnya. (dna/smu)