SLAWI-Sejumlah warga Desa Sesepan, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal mengeluhkan lahan pertanian miliknya yang tidak subur. Keluhan itu disampaikan langsung kepada Bupati Tegal, Enthus Susmono saat berkunjung ke desa tersebut, kemarin.

Salah satu petani Desa Sesepan, Sukono, menuturkan bahwa lahan pertanian yang kurang subur berada di dekat Gunung Jolang. Luasnya sekitar 20 hektare. Kurang suburnya lahan tersebut disinyalir karena terkena tanah ladon. Yakni, tanah yang berada di lapisan paling bawah pada bukit batu. Tanah ladon tersebut berasal dari aktivitas penambangan batu yang lokasinya tidak jauh dari lahan pertanian. Saat bukit batu ditambang, tanah ladon beterbangan sehingga masuk ke lahan pertanian.

“Tanah ladon sering terbawa angin dan air irigasi. Tanah ladon bersifat merusak kesuburan tanah. Jika sedang musim tanam, maka tanaman tersebut akan kaku dan layu,” tuturnya.

Sukono mengungkapkan, endapan tanah ladon di lahan pertanian tersebut, berlangsung cukup lama. Aktivitas penambangan itu sendiri menggunakan mesin breaker yang menimbulkan kebisingan. “Harapan kami, Pak Bupati dapat memberikan solusi yang terbaik untuk kami,” ujarnya.

Bupati Enthus Susmono yang mengecek langsung ke lokasi dengan menyusuri lahan pertanian, juga mengamati perbedaan tanah yang terkena ladon dan yang tidak. Menurut Enthus, tanah yang terkena ladon tampak menjadi keras dan kering, sementara tanah yang tidak terkena ladon terlihat hitam dan subur. “Dalam waktu dekat, kami akan mengklarifikasi pihak penambang terkait hal itu,” ucapnya.

Orang nomor satu di Kabupaten Tegal itu juga menyatakan bakal mengecek ulang dokumen Upaya Pengelolaan lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UKL/UPL) aktivitas penambangan batu tersebut. Sebab, dokumen UKL/UPL semestinya sudah mempertimbangkan berbagai dampak bagi lingkungan termasuk lahan pertanian. “Kami akan mengupayakan solusi terbaik yang menguntungkan kedua belah pihak, baik bagi penambang maupun bagi petani,” tandasnya. (yer/jpnn/ida)