SALATIGA – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Salatiga menuntut segenap kru pers mahasiswa Lentera meminta maaf kepada segenap masyarakat Kota Salatiga secara terbuka. Desakan itu disuarakan seiring dengan terbitnya majalah lentera yang mengusung tema “Salatiga Kota Merah” dinilai peredarannya menimbulkan keresahan yang sangat luar biasa, baik di dunia maya maupun dunia nyata.

Desakan itu dilontarkan Ketua Umum HMI Cabang Salatiga, Sahal Munir dalam pers rilis yang dikirimkan kepada media. Sahal menyatakan bahwa HMI menolak segala bentuk aktivitasi benih – benih komunisme dan siap menjadi garda depan atas pembasmian benih-benih komunisme di Kota Salatga.

“Salatiga merupakan kota religius yang menerima segala bentuk agama, kepercayaan dan keyakinan yang bersandar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, berbeda dengan komunis dan pahamnya yang meniadakan adanya Tuhan. Maka dari itu paham komunis harus dilarang masuk Kota Salatiga,” tandas Sahal Munir.

Menurut Sahal, meskipun cara yang digunakan Lentera untuk mengungkap sebuah fakta sejarah adalah cara ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan, namun muatan materi yang ada di dalam Majalah Lentera tidak menawarkan relevansi atau ketidaksesuaian antara judul dan isi, dan ini merupakan bentuk kebohongan publik. ”Lentera harus merehabilitasi nama baik Kota Salatiga yang terlanjur dinilai sebagai Kota kebangkitan Komunis di Indonesia”, tambahnya.

Majalah Lentera, sebagaimana diketahui merupakan Lembaga Pers Mahasiswa dibawah didikan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (Fiskom) UKSW Salatiga, maka pemberian sanksi dikembalikan sepenuhnya kepada pihak Fakultas untuk dibina dan kemballi kepada role yang semestinya di tataran kemahasiswaan.

“Untuk itu HMI mengajak segenap elemen masyarakat, tokoh agama, jajaran pemerintahan dan aparat keamanan untuk bersatu – padu membasmi benih-benih aktivasi paham Komunis dan meningkatkan kondusifitas yang dinamis di kota Salatiga,” jelas dia. Karena Kota Salatiga merupakan kota yang damai, tenteram, dan religius, sehingga segala bentuk kegiatan yang meresahkan harus ditolak. (sas/zal)