SEMARANG – Jawa Tengah mengalami deflasi sebesar 0,04 persen pada bulan Oktober. Penurunan harga cabai memberikan kontribusi cukup besar pada deflasi tersebut.

Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah, Jamjam Zamachsyari mengatakan, pada bulan Oktober banyak komoditi yang mengalami penurunan harga, terutama komoditi strategis yang memiliki andil cukup besar pada indeks harga konsumen.

Penurunan indeks pada kelompk bahan makanan sebesar 0,49 persen, kelompok transport, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,05 persen, kelompok sandang sebesar 0,02 persen dan kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,01 persen. “Komoditas yang memberikan sumbangan terbesar terjadinya defalasi adalah cabai merah, cabai rawit, telur dan daging ayam ras,” ujarnya, kemarin.

Pada bulan Oktober, ucapnya, cabai mengalami penurunan harga yang cukup signifikan. Yaitu antara 30-60 persen. “Berdasarkan survei pada pasar-pasar di Semarang, cabai keriting yang pada bulan September rata-rata Rp 27 ribu, pada Oktober lalu turun hingga sekitar Rp 12 ribu,” jelasnya.

Deflasi tersebut, lanjutnya, tertinggi terjadi di Kota Cilacap sebesar 0,23 persen, diikuti Semarang sebesar 0,16 persen, kemudian Kudus sebesar 0,11 persen. Sedangkan inflasi tertinggi terjadi Tegal sebesar 0,29 persen, Surakarta sebesar 0,26 persen dan Purwokerto sebesar 119,02 persen.

Kemudian dari enam ibukota provinsi di Pulau Jawa, lima kota mengalami deflasi dan satu kota mengalami inflasi. Deflasi tertinggi di Surabaya sebesar 0,34 persen, diikuti Serang sebesar 0,30 persen, Semarang sebesar 0,16 persen, Bandung sebesar 0,06 persen dan DKI sebesar 0,05 persen. Sedangkan inflasi terjadi di Yogyakarta sebesar 0,01 persen. (dna/smu)