Razia PGOT Tak Efektif Pagi Masuk, Sore Keluar

243

SEMARANG – Penanganan Pengemis Gelandangan dan Orang Tua Telantar (PGOT) yang dilakukan Pemkot Semarang melalui Satuan Polisi Pamong Praja dan Perlindungan Masyarakat (Satpol PP Linmas) dan Dinas Sosial Pemuda dan Olahraga (Dinsospora) belum maksimal. Terbukti sejumlah PGOT yang terjaring razia, tidak lama kemudian, para PGOT tersebut sudah kembali ke jalan.

Razia PGOT memang gencar dilakukan para penegak Perda Kota Semarang. Hanya saja, kuantitas action tersebut tidak diimbangi dengan penyuluhan agar mereka tidak turun ke jalan kembali. Terlebih tidak ada sanksi yang membuat para PGOT itu jera.

Kabid Transtibunmas Satpol PP Kota Semarang, Kusnandir mengakui rutin melakukan penertiban terhadap PGOT yang sering beroperasi di jalan-jalan protokol Kota Semarang seperti kawasan Johar, Majapahit dan Kota Lama. ”Kalau saya setiap minggu lakukan penertiban, lihat situasional dengan menyikapi razia. Paling tidak menjaring 15 orang PGOT dan ada juga yang di bawah umur ada 2-3 anak,” ungkapnya, kemarin.

Dia membeber, para PGOT yang terjaring razia sebagian besar berasal dari luar Kota Semarang seperti Purwodadi, Demak, Pati dan Jepara. Sedangkan dari wilayah barat berasal dari Kendal dan sekitarnya. Bahkan, dari Wonogiri, Kabupaten Semarang dan Boyolali juga masuk ke wilayah Kota Semarang. ”Kalau PGOT yang terjaring, dari dalam Kota Semarang sendiri paling hanya 5 persen. Terbanyak dari luar Kota Semarang. Ironisnya yang terjaring razia ya orang-orang itu saja. Dari temuan petugas kami, pagi terjaring razia, sore suah berkeliaran lagi di jalan,” ujarnya.

Pihaknya menjelaskan, para PGOT yang terjaring razia langsung diserahkan ke tempat rehabilitasi sosial baik di Amongjiwo yang merupakan UPTD Pemkot Semarang maupun ke rehab Margowidodo di bawah naungan Provinsi Jawa Tengah. Namun demikian, pihaknya menyayangkan penanganan rehab tersebut dilakukan tidak maksimal. ”Paling tidak, rehab lebih dari 10 hari. Tapi pada kenyataannya tidak sampai 3 hari sudah berkeliaran lagi,” keluahnya.

Terpisah, Kepala UPTD Rehabsos Amongjiwo, M. Ridwan mengakui rehabsos Amongjiwo sekarang ini over kapasitas. Seharusnya hanya berkapasitas 50-60 orang. Sedangkan saat ini, jumlah di rehabsos Amongjiwo mencapai ada 87 orang, 83 di antaranya sakit jiwa dan hanya 3 orang PGOT.

Dia menambahkan, para PGOT di tempat rehabsos tidak hanya dari dalam Kota Semarang. Bahkan dari wilayah Tuban Jawa Timur juga ada yang menghuni tempat tersebut. Sedangkan para penghuni mendapat pembinaan 3-7 hari. Menurutnya, rehab tersebut tidak bisa menampung para PGOT dengan waktu lama dengan alasan lebih spesifik penampungan orang sakit jiwa. (mha/zal/ce1)