Survei Dinilai Lebih Masuk Akal

Polemik Kenaikan UMK 2016

Must Read

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp...

SEMARANG – Polemik yang terjadi terkait penentuan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) 2016 sepertinya masih belum berakhir. Kali ini, bola panas berada di tangan (Pemprov) Jawa Tengah. Apakah tetap menerapkan PP Pengupahan sesuai instruksi pemerintah pusat atau tetap menggunakan survei Kebutuhan Hidup Layak (KHL) sesuai tuntutan para buruh.

Anggota Komisi E DPRD Jateng Yudi Indras Wiendarto mengatakan, pemprov seharusnya terus membuka ruang komunikasi baik dengan buruh maupun pengusaha. Menurutnya, keberadaan PP Pengupahan yang baru ditetapkan butuh sosialisasi dan petunjuk implementasi yang jelas. Sehingga penggunaan survei KHL dalam penentuan UMK lebih disarankan.

”Di lihat dari posisinya, ada barang yang sudah jelas (survei KHL) dan ada baru lahir (PP Pengupahan). Secara visible, pakai yang sudah jadi saja. Lebih masuk akal,” ujarnya menanggapi pertanyaan wartawan, kemarin.

Yudi menjelaskan, jika PP Pengupahan diberlakukan, harus ada tolok ukur yang jelas. Bagaimana mekanisme penghitungan inflasi dan pertumbuhan ekonomi juga harus dijelaskan. Menurutnya, tidak mungkin setelah dihitung, pendapatan buruh menjadi menurun. ”Jika yang terjadi demikian, apa mau kita dianggap sebagai negara miskin,” imbuhnya.

Ditambahkan Yudi, berdasarkan hasil pertemuan dengan perwakilan buruh dan pihak eksekutif yang diwakili Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Kependudukan (Disnakertranduk) Jateng beberapa waktu lalu diketahui tinggal dua daerah yang belum mengusulkan besaran angka UMK 2016 kepada Gubernur Jateng. Artinya, 90 persen semua kabupaten/kota telah melakukan survei KHL.

”Jika kemudian pemprov menggunakan PP Pengupahan, hasil survei yang dilakukan mulai Januari hingga sekarang akan sia-sia. Karena hanya digletakke (dibiarkan) begitu saja,” tandas politikus Partai Gerindra itu.

Terpisah, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyatakan bahwa formulasi baru tentang pengupahan telah ditetapkan pemerintah pusat. Oleh karenanya, segala kebijakan harus sesuai peraturan yang ada. ”Ini bukan pakai PP atau bukan, saya disumpah untuk menjalankan peraturan perundangan-undangan,” ujarnya.

Hanya saja, lanjut Ganjar, pemprov juga memiliki pedoman terkait survei KHL. Oleh karena itu, nantinya baik survei maupun PP Pengupahan akan diperbandingkan. ”Jika dalam perhitungannya PP ternyata lebih kecil dari survei KHL, saya akan minta Menteri Tenaga Kerja untuk tidak menggunakan PP,” tandasnya. (fai/ric/ce1)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...

Air Semut

Kota ini di tengah Gurun Gobi. Jaraknya empat jam dari kota di baratnya. Juga empat jam dari kota di timurnya. Kota yang di barat itu,...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -