SEMARANG – Keberadaan pengemis gelandangan dan orang tua telantar (PGOT) alias gepeng di Kota Semarang ditengarai dikoordinasi oleh oknum. Saat ini, pihak yang mengoordinasi para gelandangan dan pengemis tersebut tengah ditelusuri.

Hal itu terungkap, saat petugas Satpol PP Kota Semarang melakukan razia gepeng di sejumlah jalan protokol di Kota Semarang. Razia menyisir Jalan Siranda, Jalan Majapahit, Pasar Kambing, Peterongan, Jalan Soekarno Hatta, Jalan Pandanaran, Jalan Pemuda, Jalan Gajahmada dan Kampung Kali. Hasilnya sebanyak 19 gepeng berhasil dijaring.

Kabid Trantibunmas Satpol PP, Kusnandir, mengatakan, dalam razia berhasil menjaring sebanyak 19 orang PGOT. Rata-rata PGOT tersebut berasal dari luar Kota Semarang. ”Dari 19 orang, dua di antaranya wanita. Setelah dilakukan pendataan, diketahui mereka berasal dari wilayah timur, seperti Demak,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (30/10).

Pihaknya menduga, para PGOT yang beoperasi di wilayah Kota Semarang diduga terkoordinasi. Hal tersebut diketahui dari salah seorang gepeng yang terjaring razia. Gepeng tersebut mengakui berangkat ke Kota Atlas diantar oleh seseorang.

”Setelah kita lakukan pendekatan, mereka mengakui kalau rombongan gepeng tersebut diantar jemput oleh seseorang. Ini sangat ironis sekali. Kasihan, orang yang tidak ingin jadi pengemis dibujuk rayu menjadi pengemis,” ujarnya.

Dia mengatakan, para gepeng yang terjaring razia langsung dikirim ke Panti Rehabilitasi Margo Widodo milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Selain itu, pihaknya akan berkoordinasi dengan dinas terkait dalam upaya penertiban gepeng. ”Kami akan menggandeng Dinsospora Kota Semarang dan kepolisian untuk mengidentifikasi adanya dugaan yang mengoordinasi para gepeng,” terangnya.

Kepala Satpol PP Kota Semarang, Endro P Martanto, mengatakan, pihaknya akan menggencarkan penertiban gepeng yang sering beroperasi di wilyah Kota Semarang. Pihaknya juga akan mengantisipasi adanya PGOT buangan ke dalam Kota Semarang dalam menghadapi akhir tahun. ”Kita akan melakukan patroli rutin menjelang Natal dan tahun baru di tempat-tempat yang menjadi sarang beroperasinya gepeng,” katanya. (mha/aro/ce1)