Sejak lulus dari D3 Interstudy jurusan broadcasting, tawaran kerja di sebuah malajah Islami disambutnya. Sejak tahun 2010, perempuan yang wira-wiri Pekalongan-Jakarta ini, didapuk menjadi koordinator liputan di Majalah Sabili.

“Kadang ikut liputan bareng fotografer. Sering wawancara banyak tokoh,” terangnya.

Hidupnya langsung termotivasi, saat mewancarai desainer kondang muslimah Dian Pelangi. Banyak hal menarik yang didapatnya. “Intinya, saat wawancara dengan Dian Pelangi, saya dapat motivasi. Bahwa seorang perempuan pun bisa sukses. Terlebih kita sama-sama dari Pekalongan,” ucapnya penuh semangat.

Walaupun sempat dipindah di bagian HRD, dirinya terus mendalami fotografi. Bahkan memutuskan berkarir menjadi fotografer lepas mulai 2011 sampai sekarang. “Awalnya saya tidak yakin, karena peralatan seadanya. Namun setelah dapat petuah, bahwa lensa mahal belum tentu menjadikan karya bagus. Dari situ saya kembali memiliki semangat berkarya,” katanya sempat minder.

Berawal dari studio sederhana, kini Bella sudah memiliki dua studio foto profesional di Pekalongan dan Jakarta. Setiap bulan, rutin dapat orderan berbagai macam jasa foto, baik foto pre wedding dan sejenisnya.

Namun, semakin tinggi pohon, semakin tinggi anginnya. Itu menjadi hal baku menurutnya saat berkarya. Karena idenya dalam foto sering dijiplak sesama fotografer, dan sering terjadi perang tarif. “Awalnya saya jengkel ditiru. Namun saya sadar, momen dan ide yang bagus menjadi inti sebuah karya. Saya masih bisa mencari ide lain. Bahkan, yakin tidak akan pernah habis ide,” tandasnya sumringah. (han/ida)