Dia menambahkan, menggunakan pemain senior yang kaya pengalaman bukan jaminan sebuah tim dapat tampil superior di sebuah kompetisi. Seorang pemain dengan nama besar bukan segalanya di sepak bola Indonesia. Hal itu dapat dikalahkan dengan kekompakan sebuah tim. ”Sekarang eranya kick and rush. Kami butuh pemain-pemain bertenaga dan memiliki semangat juang tinggi. Karenanya, kami akan memprioritaskan pemain muda. Contohnya dalam dua musim terakhir ini kami mampu tampil baik dengan skuat muda,” imbuhnya.

Sejak terdegradasi ke Divisi Utama, PSIS sudah melakukan berbagai cara agar kembali naik kasta. Mulai dengan menggunakan pemain-pemain senior di musim 2010/2011 dan 2011/2012. Meski ditunjang pemain pengalaman dan pelatih berpengalaman, PSIS justru gagal menyuguhkan permainan menjanjikan.

Kemudian pada musim 2012/2013, 2013/2014 dan tahun ini visi tim berubah total. PSIS banyak diperkuat oleh pemain muda. Tak hanya itu, sederet nama pelatih seperti Firmandoyo, Eko Riyadi, M Dofir secara pengalaman juga masih di bawah pelatih-pelatih tiim Mahesa Jenar sebelumnya.

Namun dengan gebrakan seperti itu, PSIS justru mampu tampil menjanjikan dalam dua musim terakhir. Pada era pelatih Eko Riyadi PSIS berhasil melaju hingga ke babak delapan besar. Kemudian duet Eko Riyadi dan M Dofir juga berhasil mengantarkan PSIS juara tak terkalahkan di Piala Polda Jateng 2015. (bas/smu)