JADI KORBAN: Nurdiono (bawah), salah satu atlet gulat Jateng yang nasibnya tak jelas lantaran kisruh organisasi PGSI. (BASKORO S/JAWA POS RADAR SEMARANG)
JADI KORBAN: Nurdiono (bawah), salah satu atlet gulat Jateng yang nasibnya tak jelas lantaran kisruh organisasi PGSI. (BASKORO S/JAWA POS RADAR SEMARANG)
JADI KORBAN: Nurdiono (bawah), salah satu atlet gulat Jateng yang nasibnya tak jelas lantaran kisruh organisasi PGSI. (BASKORO S/JAWA POS RADAR SEMARANG)
JADI KORBAN: Nurdiono (bawah), salah satu atlet gulat Jateng yang nasibnya tak jelas lantaran kisruh organisasi PGSI. (BASKORO S/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Konflik di tubuh gulat Jateng yang melibatkan atlet, pelatih serta pengurus Pengprov PGSI Jateng belum juga melahirkan titik temu. Pengprov PGSI hingga kini masih berpijak pada keputusannya untuk mencoret 15 pegulat yang saat ini menjalani Pelatda Jalan Gunung Sawo, Semarang.

Sedangkan para pegulat yang biasa berlatih di rumah Rubianto Hadi di Jalan Gunung Sawo juga tetap kukuh pada pendirian mereka bahwa 15 pegulat dan tim pelatih yang terdepak tersebut merupakan skuad lini satu Jateng yang secara kualitas menurut mereka lebih baik dibandingkan dengan tim gulat PGSI yang saat ini menjalani pelatda di GOR Jatidiri Semarang.

Seperti diketahui, pada pertengahan September lalu, PGSI Jateng memutuskan untuk mengganti seluruh atlet pelatda. Sebanyak 15 pegulat dicoret dari tim. Hal itu menjadikan pertanyaan dari pegulat. Mereka meminta untuk kembali masuk ke tim gulat Pra PON XIX Jateng dan KONI Jateng mengambil alih pemusatan latihan.