SEMARANG – Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Semarang kembalikan uang kerugian negara kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang. Pengembalian uang kerugian negara sebesar Rp 500 juta tersebut diserahkan langsung Kepala Kejari Kota Semarang Asep Nana Mulyana kepada Sekretaris Daerah (Sekda) Adi Tri Hananto.

Penyerahan dilakukan saat acara penyerahan Dokumen Pelaksanaan Perubahan Anggaran (DPPA), tahun anggaran 2015 Satuan KerjaPerangkat Daerah (SKPD) di Gedung Moch Ihsan Balai Kota Semarang, (28/10).

Uang sejumlah Rp 500 juta tersebut merupakan uang pengganti rampasan dari sejumlah tersangka kasus korupsi di lingkungan Pemkot Semarang yang merugikan kas daerah, di antaranya kasus Semarang Pesona Asia (SPA). ”Pengembalian uang ini sebagai bukti Kejari tidak mencari-cari kesalahan dan membuat semua bagian bekerja sesuai tupoksi masing-masing,” kata Asep Nana Mulyana usai kegiatan.

Uang yang dikembalikan akan langsung dimasukkan ke Bagian Keuangan. Sementara untuk penggunaannya, tidak bisa digunakan langsung untuk tahun ini. ”Uang tentu akan kami gunakan, tapi tidak bisa langsung tahun ini. Akan bisa digunakan pada 2016 mendatang,” kata Adi Tri Hananto.

Adi menambahkan, setelah melalui evaluasi gubernur, kerangka APBD Perubahan Tahun Anggaran 2015 meliputi sejumlah hal. Di antaranya, pendapatan daerah mengalami peningkatan dari Rp 3,043 triliun menjadi Rp 3,263 triliun. ”Artinya bertambah sebesar Rp 220,667 miliar,” jelasnya.

Sedangkan untuk belanja daerah juga mengalami peningkatan, dari Rp 3,612 triliun menjadi Rp 4,358 triliun. Jika melihat angka tersebut, katanya, setiap tahun terjadi peningkatan atau perubahan anggaran. ”Tentunya SKPD yang ada anggaran perubahan telah merencanakan dengan matang mulai tolok ukur, target kinerja, output dari anggaran perubahan atau pergeseran yang telah diajukan serta latar belakang adanya perubahan anggaran. Sehingga tidak ada alasan anggaran tidak terserap maupun program kegiatan yang masuk dalam perubahan atau pergeseran anggaran, tidak bisa dilaksanakan sesuai target,” terangnya.