SEMARANG – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah mengklaim terus melakukan upaya untuk mengantisipasi dampak kekeringan yang terjadi di beberapa wilayah di Jawa Tengah. Salah satunya adalah menyalurkan air bersih kepada 1.225 desa yang mengalami kekeringan.

”Hingga 20 Oktober, dana yang terserap (untuk penyaluran air bersih) mencapai Rp 10,1 miliar. Luasan wilayah yang terkena dampak kekeringan tidak bertambah. Justru yang bertambah kebutuhan air bersih,” ungkap Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah Sarwa Pramana, kemarin.

Lebih lanjut Sarwa menjelaskan, kerugian yang diakibatkan bencana kekeringan secara fisik belum terlaporkan. Akan tetapi, ia memastikan bahwa kebutuhan air untuk daerah-daerah yang mengalami kekeringan tetap tercukupi. ”Selain menggandeng Bakorwil (Badan Koordinasi Wilayah) Jateng, kita juga terus melakukan koordinasi dengan BPBD Kabupaten/Kota untuk penyediaan air baku masyarakat,” imbuhnya.

Dalam pendistribusian air bersih Sarwa menegaskan bahwa tidak hanya mengandalkan tanki air yang dapat berjalan menuju wilayah terpencil. Akan tetapi, juga menggunakan bantuan kearifan lokal masyarakat setempat karena tidak semua tanki air dapat masuk ke wilayah paling dalam daerah yang mengalami kekeringan. ”Mereka bawa jeriken sendiri ke lokasi dropping air,” terangnya.

Berdasarkan data yang dimiliki BBPD Jateng, terdapat 286 kecamatan di Jawa Tengah yang saat ini mengalami kekeringan. Jumlah tersebut termasuk di dalamnya 1.225 desa dengan total arus tanki yang telah diterjunkan yakni 23.373 tanki air. ”Beberapa daerah yang mengalami kekeringan meliputi Rembang, Blora, Grobogan, Pati, Wonogiri, Sukoharjo, Klaten, Boyolali, Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Tegal, Pemalang, Purworejo, Jepara, Demak, dan Kebumen,” bebernya.

Sebelumnya, Pemprov Jateng menyatakan darurat kekeringan bagi Jawa Tengah karena luasan daerah terdampak kekeringan semakin meluas. Oleh karenanya, pemprov telah mengambil sumber anggaran dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk bencana. ”Penanganan jangka pendek ya memasok air. Kami akan kerahkan kabupaten/kota, swasta, TNI dan lainnya untuk memasok air sebanyak-banyaknya,” ungkap Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.

Adapun untuk antisipasi jangka menengah, lanjut Ganjar, adalah membuat embung-embung di daerah. Ia menargetkan dapat membangun 1.000 embung di Jawa Tengah untuk mengatasi bencana kekeringan ini. ”Kalau embung bisa dioptimalkan bisa senang. Sedangkan jangka panjangnya ya reboisasi di sektor hulu,” tandas Ganjar. (fai/zal/ce1)