Menjaga Momentum Penguatan Rupiah

258
PROTES : Pejabat Kejaksaan Negeri Kajen Kabupaten Pekalongan saat melakukan protes pada acara sosialisasi pengadaan barang dan jasa, di Kantor Dinas Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Energi Sumber Daya Mineral (PSDAESDM), Kabupaten Pekalongan, kemarin. (Taufik hidayat/jawa pos radar semarang)
PROTES : Pejabat Kejaksaan Negeri Kajen Kabupaten Pekalongan saat melakukan protes pada acara sosialisasi pengadaan barang dan jasa, di Kantor Dinas Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Energi Sumber Daya Mineral (PSDAESDM), Kabupaten Pekalongan, kemarin. (Taufik hidayat/jawa pos radar semarang)
Dr. Iskandar Simorangkir SE, MA.
Dr. Iskandar Simorangkir SE, MA.

SETELAH mengalami pelemahan lebih dari 2 tahun dan menyentuh level terendah Rp 14.700 per 1 dolar AS, nilai tukar rupiah mulai menunjukkan tajinya dengan menguat tajam hingga 9,3 persen sejak awal Oktober, dengan level penutupan pada akhir minggu lalu sebesar Rp 13.621 per dolar AS. Penguatan tersebut terutama berasal dari sentimen positif mengenai kemungkinan penundaan kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS (Federal Reserve Bank) pada Desember yang akan datang. Penundaan kenaikan suku bunga tersebut diyakini pasar karena perekonomian AS masih lemah sebagaimana tecermin dari data penyerapan tenaga kerja AS yang jauh di bawah perkiraan.

Penguatan rupiah tersebut ternyata tidak hanya berasal dari faktor global, tetapi juga berasal dari dalam negeri. Optimisme terhadap membaiknya prospek perekonomian Indonesia yang berasal dari serangkaian paket kebijakan pemerintah dan paket kebijakan stabilisasi nilai tukar yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia. Kedua faktor tersebut telah mendorong masuknya aliran modal asing ke Indonesia dan pada lanjutannya telah menggairahkan transaksi di pasar uang di Indonesia. Kondisi tersebut tecermin dari peningkatan pesat indeks harga saham gabungan (IHSG) dari hanya sebesar 4.224 pada akhir September menjadi sebesar 4.653 pada akhir minggu lalu. Sejalan dengan peningkatan IHSG, yield SBN juga tidak mau ketinggalan dengan meningkat menjadi 9,6 persen.