SEMARANG – Perkembangan teknologi memberikan banyak kontribusi terhadap kemajuan di sektor industri jasa keuangan. Namun demikian, hal tersebut juga membuka peluang akan kejahatan di sektor ini, khususnya dalam era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang akan segera kita songsong.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 4 Jawa Tengah, Y Santoso Wibowo mengatakan, dengan perkembangan teknologi di era MEA, memungkinkan terjadinya kejahatan lintas negara pada sektor industri jasa keuangan. “Beberapa fasilitas berbasis teknologi yang disediakan oleh jasa keuangan bisa saja dijadikan sarana kejahatan yang dikoordinir tak hanya oleh orang Indonesia, tapi bisa dari berbagai negara,” ujarnya, kemarin (25/10).

Oleh karena itu, pihaknya menggandeng pihak-pihak terkait untuk mengantisipasi kejahatan tersebut. Selain itu, pihaknya juga terus menyosialisasikan masyarakat agar menjadi pengguna jasa keuangan yang cerdas, dengan memahami produk, baik keuntungan maupun risikonya. “Masyarakat harus paham betul produk yang akan mereka ambil. Tak hanya pada masyarakat, pada lembaga keuangan kami juga mewajibkan untuk memberikan keterangan detail akan keuntungan dan risiko dari produk yang mereka jual pada masyarakat,” ungkapnya.

Sementara itu, sejauh ini dari semua modus kejahatan di sektor industri jasa keuangan, terbanyak adalah investasi bodong. Yaitu adanya oknum yang menawarkan produk investasi dengan imbalan hasil yang cukup besar.

Menurutnya, kejadian tersebut masih terus berulang. Satu kasus terbongkar, masyarakat mulai berhenti ikut investasi tersebut. Namun, dua atau tiga tahun kemudian muncul lagi kasus serupa dan timbul lagi korban. Kerugian per orang beragam, bahkan ada yang mencapai milyaran. “Berkaca dari hal tersebut, masyarakat baiknya lebih waspada. Jika menabung di bank bunga hanya 6 persen setahun dan ada yang berani menawarkan per bulan bunga lebih dari 5 persen, ini perlu diwaspadai,” tandasnya. (dna/smu)