KOLABORASI : Widya - Hilmi berkolaborasi saat memaparkan visi dan misi kampanye kepada ribuan Kades, perangkat desa dan mantan Kades eks Karesidenan Selokaton, kemarin. (ADENNYAR WYCAKSONO / JAWA POS RADAR SEMARANG)
KOLABORASI : Widya - Hilmi berkolaborasi saat memaparkan visi dan misi kampanye kepada ribuan Kades, perangkat desa dan mantan Kades eks Karesidenan Selokaton, kemarin. (ADENNYAR WYCAKSONO / JAWA POS RADAR SEMARANG)
TERCEMAR : Sungai-sungai di Kota Pekalongan ternyata sangat kotor dipenuhi enceng gondok dan limbah industri batik hingga menghitam. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TERCEMAR : Sungai-sungai di Kota Pekalongan ternyata sangat kotor dipenuhi enceng gondok dan limbah industri batik hingga menghitam. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

PEKALONGAN-Pj (Pejabat) Wali Kota Pekalongan, Prijo Anggoro merasa heran dengan Kota Pekalongan yang mendapatkan penghargaan Adipura. Namun kondisi sungai yang membelah Kota Pekalongan tersebut tetap kotor, permukaannya tertutup enceng gondok, dan airnya tercemar limbah pabrik batik maupun tekstil lainnya.

Keheranan tersebut disampaikan Pj Wali Kota saat bertemu dengan ratusan relawan dan tim dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dalam pembukaan Workshop Pemanfaatan Mikroba Untuk Solusi Lingkungan yang dilaksanakan di Ruang Amarta Setda Kota Pekalongan, Kamis (22/10) kemarin.

“Kalau pas ada saya, tim penilai Adipura saya ajak ke Sungai Bremi dan Sungai Loji. Tak suruh menilai, bisa dapat Adipura atau tidak,” selorohnya.

Untuk itu, dirinya menantang BPPT dan relawan agar bisa mengeluarkan seluruh kemampuan terbaiknya, untuk membersihkan sungai yang ada di Kota Pekalongan. “Saya kasih waktu 3 bulan dari sekarang atau akhir Januari,” tantang Prijo Anggoro.