Gulat Terancam Tidak Maksimal

233

SEMARANG – Persiapan cabang olahraga gulat Jateng ke PON XIX kacau. Persoalan serius tengah melanda Pengprov PGSI, organisasi yang menaungi olahraga ini.

Persoalan bermula dari keputusan Ketua Umum Pengprov PGSI Jateng Andreas Budi Wirohardjo yang mencopot Rubianto Hadi dari jabatan pelatih kepala pelatda gulat dan yang menunjuk Jumain sebagai penggantinya. Rubianto Hadi dianggap gagal membawa prestasi terbaik di ajang Indonesia Open yang berlangsung di Semarang beberapa waktu lalu.

Buntutnya, pasca perombakan tim pelatih, ternyata beberapa atlet lini satu Jateng mengikuti jejak Rubianto untuk mundur dari pelatda sehingga memaksa PGSI Jateng untuk mencari pegulat-pegulat baru untuk masuk ke tim Pelatda Jateng. “Saya sebenarnya legawa saat sempat mau diganti sebagai asisten pelatih. Tapi perkembangannya saya kok dicopot dari pelatih sama sekali,” kata Rubianto usai pencoretannya beberapa waktu lalu.

Bahkan, beberapa waktu lalu dikabarkan dilangsungkan Musprovlub PGSI Jateng yang digagas Rubianto untuk mendongkel posisi Andreas sebagai ketua umum.

Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jateng berharap sederet permasalahan yang mendera kubu PGSI termasuk persoalan teknis persiapan mereka jelang turun di babak kualifikasi PON bisa segera terselesaikan.

Mengenai persoalan teknis, terpecahnya tim gulat Jateng pasca perombakan tim pelatih beberapa waktu lalu juga tidak mempengaruhi persiapan mereka jelang turun di babak kualifikasi PON di Kota Malang November mendatang.

Wakil Ketua Umum II KONI Jateng Sudarsono mengusulkan, solusi terbaik untuk mengatasi persoalan teknis saat ini adalah menggelar seleksi ulang agar PGSI Jateng tetap mendapatkan atlet-atlet terbaik yang akan mereka turunkan di Pra PON. ”Kami mendorong agar diadakan seleksi kembali agar terpilih pegulat yang benar-benar terbaik untuk Jateng. Jika memang merasa mampu dan layak masuk tim PON XIX yang coba bersaing. ” tutur Sudarsono di sela-sela mediasi KONI Jateng dan PGSI kemarin.