SEMARANG – Dinas Koperasi dan UMKM Kota Semarang merangkul anak-anak muda untuk diajari membuat karya sablon kaos. Selain membuka peluang berwirausaha, produksi mereka juga bisa menjadi branding Kota Semarang. Pasalnya, pelatihan yang digelar di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Selasa-Jumat (20-23/10) itu mengarahkan penyablon untuk membuat mendesain kaos yang sarat Kota Semarang.

Entah dari kata-katanya, atau gambar-gambar ikon Kota Semarang seperti Lawang Sewu, Sam Poo Kong, Gereja Belenduk, dan lain sebagainya. “Hal semacam ini bisa menjadi branding Kota Semarang. Kalau kita lihat, orang sekarang lebih suka memakai kaos ikonik kota. Kaos Jogja misalnya. Sebenarnya itu kan simpel. Tapi banyak yang suka. Mungkin mereka punya prestis sendiri atau menbuktikan ke khalayak unum bahwa sudah pernah ke Jogja. Dan kaos ikonik kota seperti itu, sudah termasuk salah satu oleh-oleh wajib,” papar Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kota Semarang Litani Satyawati.

Pihaknya sengaja merangkul anak-anak muda karena dianggap punya komunitas yang luas. Bisa membawa gaung ke mana-mana. Selain itu, mereka punya jiwa kreatifitas tinggi. Sebab, desain kaos harua dibuat semenarik mungkin. Dari komposisi, pemilihan warna, rangkaian kata-kata, dan sentuhan seni lain.

Lita sengaja ingin menggaungkan terobosan oleh-oleh khas ini lewat kaos. Selain harganya terjangkau, juga bisa dipakai ke mana-mana. Ketika dipakai di daerah lain, orang yang melihatnya, diharapkan bisa tertarik berkunjung ke Semarang.

Sayang, diakui Lita, kendalanya pemasarannya yang cukup besar. Sebab, para pelaku UMKM dilarang menjual produk mereka di tempat-tempat wisata. “Misalnya kaos bergambar Lawang Sewu. Sebenarnya akan lebih efektif dijual di pelataran atau suatu tempat di bilangan Lawang Sewu. Tapi kenyatannya, kami tidak bisa masuk. Soalnya itu bukan milik pemerintah kota. Jadi tidak bisa bebas. Begitu juga tempat-tempat lain. Paling banter, pelaku UMKM harus membayar retribusi untuk membuka stan. Mana ada yang mau,” beber Lita.

Karena itu, pihaknya berharap bisa bersinergi dengan beberapa pihak, terutama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar). Pasalnya, UMKM atau oleh-oleh tidak bisa lepas dari wisata. UMKM butuh pembeli dari luar kota, dan wisatawan juga butuh oleh-oleh di tempat wisata. “Jadi tidak bisa jalan sendiri-sendiri. Harus bersinergi,” imbuhnya.

Meski begitu, Lita masih menyimpan obsesi untuk membmembuatuat centra UMKM di Kota Semarang. Dia tetap optimistis meski beberapa wilayah di pusat kota sudah dimiliki perorangan. “Kalau bikinnya di daerah pinggiran kan tidak masuk akal. Kalau di tengah kota, sepertinya tidak memungkinkan. Sementara ini hanya dititipkan di lobi balai kota. Sebenarnya, Semarang sudah punya sentra oleh-oleh di Jalan Pandanaran. Seandainya toko-toko yang ada di sana bisa dititipi produk dari teman-teman UMKM, akan lebih bagus lagi,” pungkasnya. (amh/smu)