Terhambatnya pengucuran dana APBN, lanjutnya, berimbas pada banyak hal. Yaitu pada pengucuran anggaran daerah, serta pergerakan perekonomian di berbagai sektor, termasuk terhambatnya pasar properti, khususnya di Semarang. “Pembeli kita di Semarang sebagian besar merupakan end user, atau pengguna langsung. Maka kondisi ekonomi yang seperti ini menjadikan pasar properti tidak stabil,” ujarnya.

Ia berharap, masih ada 2 kali pameran REI Expo lagi yang akan digelar di tahun ini yang dapat dijadikan indikator pasar properti di Jateng. Pameran ke depan, diharapkan bisa mendongkrak penjualan. Dikatakan Dibya, saat ini secara grafik penjualan properti memang tidak stabil. Namun biasanya tren pasar di bulan November dan Desember akan bagus.

Sedangkan terkait program sejuta rumah dari Presiden, Dibya pun mengaku, belum berjalan lancar di Jateng. Hambatannya kalau di kota besar jelas pada lahan, termasuk halnya di Semarang dan sekitarnya. Selain itu, peraturan antara pemerintah pusat dan daerah juga dinilainya belum sinkron. Khususnya dalam hal tarif pengurusan di BPN. Menurutnya, peraturan tersebut susah diaplikasikan di daerah, meski pemerintah pusat sudah menurunkan aturan. (dna/smu)