SEMARANG – Bank Rakyat Indonesia (BRI) cabang Semarang lebih selektif dalam memberikan kredit terhadap para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Hal ini sebagai antisipasi kredit macet dari dampak menguatnya nilai tukar dolar AS terhadap rupiah.

“Kami tidak melakukan pengereman dalam pemberian kredit terhadap UMKM, karena memang mereka target kami. Hanya saja kami lebih selektif,” ujar Wakil Pimpinan Bisnis BRI Kanwil Semarang Hendro Padmono, kemarin.

Selektivitas tersebut yaitu dari yang semula pemberian kredit lebih mengarah pada usaha-usaha dengan penggunaan bahan baku berkonten impor, kini lebih diarahkan pada usaha-usaha dengan bahan baku lokal.

Selain itu kami juga lebih mengarah pada pemberian kredit untuk usaha-usaha yang akan terus dibutuhkan oleh masyarakat, baik dalam masa krisis atau tidak. Seperti usaha-usaha di bidang pertanian, perikanan maupun sandang. “Pangan maupun sandang baik masa krisis ataupun tidak pasti masyarakat akan tetap mengonsumsinya. Beda halnya dengan barang-barang sekunder, terlebih yang berbahan baku impor, harga akan melambung,” tandasnya.

Memang, lanjutnya, UMKM merupakan sektor usaha yang dinilai memiliki daya tahan krisis yang cukup baik. Namun demikian ia mengaku juga tetap harus selektif guna mengantisipasi angka kredit macet. “Sejauh ini angka kredit macet kami masih di bawah 2,5 persen. Cukup aman, karena selain dari selektivitas kami juga menyebar ke lebih banyak kreditor. Jadi bukan jumlah yang besar untuk kreditor yang kecil, tapi perbanyak yang mengambil kredit,” tegasnya.

Hingga saat ini khusus untuk wilayahnya, penyaluran kredit untuk UMKM telah mencapai Rp23,3 triliun dari target Rp25 triliun untuk tahun ini. (dna/smu)