Ajak Kaum Muda Berkreasi dengan Seni Tradisional

Melihat Lebih Dekat Sanggar Surya Budaya Pekalongan

322

“Grup musik kentongan ini memang masih baru kami rintis. Untuk menyalurkan bakat pemuda di sekitar kami,” ucap Cahya Ari Safira, 16, dedengkot sanggar seni budaya tersebut.

Dibeberkan Fira panggilan akrab dara belia ini, jenis musik yang dimainkan memang bukan asli Pekalongan, namun dari Jogjakarta. Sanggarnya sengaja membeli alatnya komplit, untuk menambah khasanah seni di sanggarnya.

“Kami menamai kelompok kentongan ini Ki Ageng Jlamprang (nama salah satu motif batik ikon Pekalongan, red). Agar nuansa Pekalongannya kental,” ucap guru tari belia ini.

Seperti tujuan dibentuknya grup musik tersebut, pihaknya merasa pergaulan remaja saat ini terlalu bebas dan kurang bermanfaat. Adanya grup tersebut, disambut positif pemuda setempat.

“Uniknya para personel grup ini, dulunya anggota band metal dan sejenisnya. Tapi malah dapat soul saat main musik ini, dan senang,” ucapnya bangga.

Gadis hitam manis ini menambahkan, saat ini grup musik, baru bisa latihan seminggu 2 kali. Setiap malam Rabu dan Senin. Selain anggotanya rata-rata kerja, pelatihnya juga terbatas waktunya.

Salah satu personel, Agus Iswanto mengaku memang senang ikut grup musik ini. “Daripada grumungan tidak benar, minum miras dan narkoba. Lebih baik gabung sini. Selain menyalurkan bakat juga untuk refreshing,” ucap salah satu vokalis Ki Ageng Jlamprang ini.

Ditambahkan lagi, konsep grup musik tradisionalnya memang menggabungkan musik kentongan dan gamelan. “Kentongan berfungsi sebagai perkusi dan beat nya. Sedang untuk melody diwakili saron (salah satu alat dalam gamelan, red),” jelasnya.

Lagu yang dibawakan lebih mengarah religius Islami, terutama sholawatan dan pujian Islami ala Gus Dur. Pihaknya juga bersyukur sejak, berdiri. Kini semakin disukai masyarakat. Bahkan kini selalu mewakili Kecamatan Wiradesa untuk pertunjukan budaya di Kabupaten Pekalongan. (*/ric)