TANAH RETAK : Warga Desa Wiru menunjukkan kerusakan rumah yang diduga akibat proyek reaktivasi rel kereta api Kedungjati-Tuntang. (PRISTYONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SIDANG PLEDOI: Dua terdakwa Suhantoro dan Djody saat menjalani sidang pledoi di Pengadilan Tipikor Semarang, Kamis (15/10) kemarin. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SIDANG PLEDOI: Dua terdakwa Suhantoro dan Djody saat menjalani sidang pledoi di Pengadilan Tipikor Semarang, Kamis (15/10) kemarin. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

MANYARAN – Sidang dugaan korupsi yang menyeret terdakwa Suhantoro (mantan Sekretaris KONI) dan Djody Aryo Setyawan (mantan Bendahara KONI) di Pengadilan Tipikor Semarang, Kamis (15/10) kemarin, berlangsung haru. Pasalnya, selama pembacaan pledoi (pembelaan, Red) atas kasus dugaan korupsi dana hibah Komite Nasional Olahraga Indonesia (KONI) Kota Semarang tahun 2012 dan 2013, terdakwa Suhantoro terus meneteskan air mata.

Dalam pledoi tersebut, Suhantoro mengakui semua perbuatannya dan menyatakan menyesal. Karena itu, ia meminta majelis hakim agar mempertimbangkan kembali hukuman dan tuntutan pengembalian uang pengganti (UP) kerugian negara.

”Saya tidak munafik. Saya ikut bersalah karena memang berada dalam organisasi tersebut. Saya hanya mohon dalam tuntutan UP dan lama hukuman, mohon dipertimbangkan kembali dalam putusan nantinya,” kata Suhantoro di hadapan majelis hakim yang dipimpin Alimin R Sudjono.