Tersangka Agus Sutriyono alias Jebret sendiri mengaku kaget saat tiba-tiba didatangi anggota polisi. ”Tiba-tiba ada polisi bawa pistol. Spontan saja, saya lawan sambil guling-guling. Secara reflek kemudian saya cokot (gigit, Red) mengenai lengan kirinya. Saya berusaha merebut pistol karena takut ditembak,” kata Jebret saat gelar perkara di Mapolrestabes Semarang, kemarin.

Penangkapan tersebut terjadi Selasa, 13 Oktober 2015 sekitar pukul 14.00 lalu, di sebuah bengkel motor daerah Jalan Soekarno Hatta Semarang. Saat itu, tersangka sedang nyantai menunggu motor miliknya diservis di bengkel tersebut. ”Kaget saja, tiba-tiba didatangi polisi. Saya bermaksud lari,” kata pria residivis yang kesehariannya bekerja sebagai sopir mobil boks itu.

Dia merupakan tersangka kasus pencurian dengan pemberatan yang dilakukan pada September 2015, sekitar pukul 13.30, di rumah korban, Siti Junaenah, 45, yang beralamat di Perumahan New Taman Bukit Asri A 16 Kota Semarang. Saat itu, tersangka bersama temannya Bodrek, 30, warga Kelurahan Bandarharjo, Semarang Utara, mencuri di rumah tersebut. 1 buah televisi LG warna hitam 32 inci dibawa kabur. Bodrek sendiri saat ini masih buron. ”Kami mencongkel pintu utama di rumah tersebut menggunakan alat drei. Kemudian masuk dan mengambil televisi,” ujar Jebret.

Ternyata, tersangka sudah tercatat empat kali ditangkap oleh tim Resmob Polrestabes Semarang pimpinan Aiptu Janadi, dalam kasus serupa. Setiap kali penangkapan, selalu terjadi adegan perkelahian dengan anggota reserse. ”Empat kali masuk penjara. Terakhir, menjalani hukuman 8 bulan di LP Kedungpane. Saya mencuri lagi karena butuh duit untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Televisi itu saya jual Rp 1,5 juta,” kata ayah dua anak ini.

Selain Jebret, tim Resmob juga meringkus tiga orang yang diduga sebagai penadah barang curian, masing-masing; Pangga, 26, warga Tambaklorok; Iswondo, 36, warga Kemijen; dan Hendri, 28, warga Tlogosari Kulon Pedurungan. Ketiganya ditangkap karena diduga menjadi pelaku pertolongan jahat atau penadahan.

Tersangka Jebret menjual barang curian tersebut kepada tersangka Iswondo seharga Rp 1,5 juta. Kemudian Iswondo meminta bantuan Pangga untuk menjualkan barang curian tersebut kepada Hendri seharga Rp 2 juta. ”Saya sendiri hanya diberi upah Rp 100 ribu,” kata Pangga.