SIBUK LAGI: Pada saat libur lebaran yang cukup panjang lalu, arus bongkar muat di TPKS juga menurun cukup signifikan. Namun saat ini kembali menggeliat dan sibuk dengan kegiatan bongkar muat. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
LESTARIKAN TRADISI : Sejumlah PNS Pemkot Pekalongan mengenakan pakaian adat Jawa saat bekerja, kemarin. Kewajiban pemakaian busana adat ini diberlakukan untuk nguri-uri budaya. (Hanafi/jawa pos radar semarang)
LESTARIKAN TRADISI : Sejumlah PNS Pemkot Pekalongan mengenakan pakaian adat Jawa saat bekerja, kemarin. Kewajiban pemakaian busana adat ini diberlakukan untuk nguri-uri budaya. (Hanafi/jawa pos radar semarang)

PEKALONGAN – Pj Wali Kota Pekalongan Prijo Anggoro memenuhi janjinya dengan mengajak jajaran pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) mengenakan pakaian tradisional batik atau adat Jawa setiap tanggal 15 di setiap bulannya, Kamis (15/10).

Hal tersebut sesuai ucapannya, saat merayakan Hari Batik pada 1 Oktober lalu. Peraturan pemakaian baju adat khas Jawa terutama batik tersebut langsung tertuang pada Surat Edaran Wali Kota yang baru, Nomor 060/03798 tahun 2015 yang mewajibkan pakaian adat atau tradisional setiap tanggal 15 bagi PNS di lingkungan Pemkot Pekalongan.

Prijo menuturkan bahwa dengan memakai pakaian adat atau tradisional menunjukkan keanekaragaman budaya. Selain itu juga sebagai bentuk upaya pelestarian terhadap budaya tersebut. “Pakaian adat itu tidak kuno, dalam pakaian adat tradisional ini ada jati diri dan karakter bangsa sekaligus nguri-uri budaya kita sendiri, terutama batik, simbol Kota Pekalongan,” tuturnya.