MEMBOLOS: Empat dari lima pelajar yang terjaring razia petugas di salah satu warnet di Jalan Gajah Raya Semarang kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
HADAPI MEA: Calon Wali Kota Semarang nomor urut 1 Soemarmo (kemeja kuning) dan calon Wali Kota nomor urut 3 Sigit Ibnugroho, saat memberikan inovasinya untuk menghadapi MEA, di kampus Tembalang, Undip, kemarin. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
HADAPI MEA: Calon Wali Kota Semarang nomor urut 1 Soemarmo (kemeja kuning) dan calon Wali Kota nomor urut 3 Sigit Ibnugroho, saat memberikan inovasinya untuk menghadapi MEA, di kampus Tembalang, Undip, kemarin. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

TEMBALANG – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang menggelar Seminar Kebangsaan bertajuk ’Semarang dalam Kerangka Tantangan dan Solusi Menghadapi Masyakarat Ekonomi Asean (MEA)’ di kampus Tembalang, Kamis (15/10) siang kemarin. Seminar yang mengundang ketiga calon wali kota (cawalkot) itu hanya didatangi cawalkot nomor urut 1 Soemarmo, dan nomor urut 3 Sigit Ibnugroho.

Dalam kesempatan itu, Marmo dan Sigit memaparkan mengenai strategi dalam menghadapi perdagangan bebas MEA dari kacamata calon pemimpin Kota Semarang. Keduanya beropini, usaha mikro kecil menengah (UMKM) menjadi salah satu sektor yang bisa digenjot untuk menstabilkan perekonomian. Hanya saja, sudah jadi rahasia umum jika UMKM di Kota Semarang masih belum bisa sejajar dengan produk-produk asing.

Marmo,sapaan akrabnya, memaparkan mengenai konsep UMKM yang sehat. Yaitu tumbuh, berkembang, dan berbuah. Untuk merealisasikan teori itu, butuh peningkatan sumber daya manusia (SDM). ”Dari birokrasi seperti dinas dan pemerintah terkait, diharapkan bisa mendidik UMKM. Menggenjot pameran tingkat lokal hingga internasional juga bisa membantu pemasarannya. Pemerintah perlu mencarikan jaringan. Memang tidak melulu pameran, seminar pun juga efektif. Menggelar seminar yang mengundang buyer dari luar negeri pun juga bisa,” ucapnya.