Diduga Menipu, Ketua KSP Intidana Dipolisikan

635

SEMARANG – Sidang Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang Sementara (PKPUS) di Pengadilan Negeri (PN) Semarang belum selesai, namun Ketua Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Intidana, Handoko, sudah kembali dihadang masalah baru. Ia dilaporkan ke Polda Jateng oleh bos perusahaan kapas Cinderella dan Selection, Heryanto Tanaka, dengan tuduhan dugaan penipuan. Heryanto Tanaka sendiri tercatat sebagai salah satu nasabah KSP Intidana.

”Kami melaporkan atas tindakan penipuan. Kasus ini bermula ketika klien kami (Tanaka) menjalani sidang PKPUS ke-1. Waktu itu, klien kami mengajukan tagihan ke KSP Intidana, namun disarankan oleh pengurus koperasi jangan diajukan karena pengurus koperasi menyatakan akan memberikan jaminan,” kata Haryanto Tanaka melalui kuasa hukumnya, Eka Windhiarto kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (13/10).

Dari pertemuan PKPUS ke-1 tersebut, lanjut Eka, pihak KSP Intidana datang ke perusahaan milik kliennya. Saat itu, ia juga hadir mendampingi kliennya sebagai lawyer. Dari pertemuan tersebut, pihak KSP Intidana memberikan 13 sertifikat dan 3 lembar cek senilai Rp 16 miliar di Bank BCA.

”Namun ternyata cek Rp 16 miliar tersebut kosong tidak ada dananya sama sekali. Ceknya ditandatangani Pak Handoko selaku Ketua KSP Intidana. Tidak hanya itu, dari 13 sertifikat ditemukan 11 sertifikat atas nama Handoko dan sebagian atas nama pengurus koperasi, di antaranya Ibu Yuni,” sebutnya.

Saat penyerahan cek dan sertifikat itu, lanjut Eka, terdapat berita acara serah terima. Dalam berita acara disebutkan bahwa cek dan sertifikat tersebut bukan sebagai jaminan pembayaran. Artinya, kalau simpanan berjangka kliennya di KSP Intidana tidak terbayar, cek dan sertifikat tersebut bukan sebagai penganti pembayaran.

”Padahal jelas, berdasarkan Peraturan Menteri Koperasi Nomor 19 tahun 1998 pasal 25 menyebutkan sertifikat koperasi tidak boleh atas nama pribadi, seharusnya langsung nama koperasi,” ungkapnya.

Eka menjelaskan, kliennya merupakan pemilik bilyet dalam bentuk simpanan berjangka di KSP Intidana senilai Rp 34 miliar. Selain itu, Eka juga menilai hasil persidangan PKPUS kemarin anggota banyak setuju dengan perdamaian namun ada catatan.