MUGASSARI – Aparat penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jateng menemukan barang bukti uang hasil rampokan yang melibatkan tiga oknum aparat, yakni anggota Subden 1 Den A Brimob Polda Jateng, Brigadir Supriyanto, bersama dua anggota TNI dari Detasemen Intel (Denintel) Kodam IV/Diponegoro, Sertu Thrisna Prihantoro, dan Serda Isac Korputi. Uang tunai senilai Rp 400 juta tersebut disembunyikan di belakang sebuah rumah kos di Semarang yang dihuni tersangka Serda Isac Korputi.

”Setelah kami konfrontir, baik keterangan tersangka maupun saksi, kami mendapatkan barang bukti baru, yakni uang kurang lebih Rp 400 juta,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Jateng Kombes Pol Gagas Nugraha kepada Jawa Pos Radar Semarang di Mapolda Jateng, Senin (12/10).

Dijelaskan, sebelumnya penyidik Ditreskrimum Polda Jateng telah menyita uang tunai Rp 4,8 miliar. Saat ini, penyidik masih terus melakukan kroscek pengembangan antara barang bukti, keterangan pelapor, termasuk kaitannya dengan barang bukti yang disita.

”Kami sudah melakukan rekonstruksi di beberapa tempat. Nanti tinggal panggil dari pihak PT Advantage Semarang untuk menyerahkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan. Karena masih ada selisih uang yang disita dan laporan yang dibuat,” ujarnya.

Pihaknya menyatakan akan melakukan pengecekan terhadap dokumen atau slip bukti pengambilan di masing-masing tempat saat uang tersebut diambil oleh petugas PT Advantage Semarang sebelum aksi perampokan tersebut terjadi. ”Struk pengambilannya nanti kami minta,” katanya.

Saat ditanya apakah ada indikasi keterlibatan orang lain, selain tiga oknum aparat, dalam aksi perampokan tersebut? Gagas menegaskan bahwa tidak ada keterlibatan pihak lain. Pihak karyawan PT Advantage yang turut dalam pengambilan uang tersebut tidak terindikasi terlibat. ”Itu murni dilakukan oleh para tersangka. Tidak ada keterlibatan orang lain,” tandasnya.

Selain itu, pihaknya juga menegaskan akan mempercepat proses hukum kasus perampokan tersebut, untuk kemudian segera siap dilimpahkan ke kejaksaan. ”Proses hukum (oknum Brimob) yang didahulukan adalah pidananya terlebih dahulu. Selanjutnya nanti baru sidang disiplin kode etik,” imbuh Gagas.