MUDIK GRATIS: Wali Kota memberangkatkan bus pengantar mudik gratis di halaman balai kota kemarin. (Nur Chamim/Jawa Pos Radar Semarang)
BANTING TULANG : Salah satu anggota PEKKA menunjukkan foto perempuan kepala keluarga yang terpaksa membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup anggota keluarganya, Senin (12/10) kemarin. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BANTING TULANG : Salah satu anggota PEKKA menunjukkan foto perempuan kepala keluarga yang terpaksa membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup anggota keluarganya, Senin (12/10) kemarin. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

PEKALONGAN-Ingin menghapus stereotip negatif terhadap janda, ratusan perempuan berstatus janda di Kota Pekalongan mendeklarasikan diri bergabung dalam sarikat Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA), Senin (12/10) kemarin.

Supi Astuti, salah satu kader PEKKA Kota Pekalongan menerangkan, mengungkapkan bahwa sarikat tersebut beranggotakan perempuan janda. Baik suaminya meninggal, cerai, ditinggal tidak jelas, maupun lajang namun membiayai anak.

“Saat ini anggota kami baru berjumlah 300-an perempuan janda. Namun baru dari dua kecamatan, yaitu Pekalongan Utara dan Pekalongan Timur,” jelasnya.

Dijelaskannya, inti dari sarikat tersebut bertujuan untuk megentaskan kemiskinan dan membuang stereotip negatif terhadap perempuan kepala keluarga. “Kami tidak ingin dipandang sebelah mata. Untuk itu, kami harus berperan aktif di masyarakat. Turut diperdayakan dalam semua bidang, dari ekonomi, kesehatan, hukum dan politik,” serunya.