DIRESMIKAN : Bupati Pekalongan, Amat Antono, meresmikan dan melintas di atas jembatan darurat Kedungpatangewu, Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, kemarin. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BARANG BUKTI: Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Burhanudin menunjukkan barang bukti ekskavator dan dump truck yang disita. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BARANG BUKTI: Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Burhanudin menunjukkan barang bukti ekskavator dan dump truck yang disita. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

BARUSARI – Petugas Reserse Kriminal (Reskrim) Polrestabes Semarang menetapkan pemilik lahan sekaligus penambang galian C di lahan berbukit Kelurahan Bulusan, Kecamatan Tembalang, sebagai tersangka. Tersangka berinisial S, warga Meteseh RT 4 RW 1 Kelurahan Meteseh, Kecamatan Tembalang. Meski lahan tebing seluas 4 hektare tersebut miliknya sendiri, ia ditetapkan tersangka karena dituding melakukan praktik penambangan atau galian C tanpa memiliki perizinan alias ilegal. Bahkan S terancam pasal pidana dengan ancaman hukuman paling lama 10 tahun penjara dan denda Rp 10 miliar.

Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Burhanudin, menegaskan, praktik pengerukan batu padas yang dilakukan oleh tersangka merugikan negara dan merusak lingkungan. ”Itu lahannya sendiri, tapi tidak memiliki perizinan galian C. Sementara kami menetapkan satu tersangka,” kata Burhanudin di Mapolrestabes Semarang, Jumat (9/10).

Dijelaskan Burhanudin, S melakukan penggalian tanah padas tanpa dilengkapi Izin Usaha Pertambangan (IUP), Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK), dan Izin Pemanfaatan Ruang (IPR). ”Dia sudah melakukan praktik penambangan ilegal itu sejak tiga bulan lalu,” terangnya.