Suyoso, 62, warga Kelurahan/Kelurahan Kauman yang menjabat sebagai Takmir Masjid Agung Jami Batang mengungkapkan bahwa pohon beringin tersebut berada tepat di depan Masjid Jami Batang dan sudah ada sejak dirinya belum lahir. Bahkan ketika dirinya masih kecil, sering bergelayutan di antara akar-akar pohon bringin tersebut. “Pohon beringin itu usianya sudah ratusan tahun. Sejak saya belum lahir sudah ada pohon beringin ini,” ungkap Suyoso.

Mulyadi, 46, seorang ahli konstruksi bangunan dari Gabungan Pengusaha Kontruksi Indonesia, Cabang Batang, mengatakan bahwa robohnya pohon beringin tersebut lebih disebabkan karena akar pohon beringin naik ke atas dan tidak bisa menjalar ke samping. Pemkab Batang seharusnya tidak membuat pagar tembok pada semua sisi pohon beringin tersebut. Pasalnya, dengan adanya tembok sedalam satu meter dan setinggi 80 sentimeter tersebut, membuat akar pohon beringin tak bisa berkembang dan menjalar.

“Kalau dilihat posisi pohon beringin tumbang ke segala arah, itu karena akar pohon beringin tidak bisa menjalar kemana-mana. Karena ada tembok di sekelilingnya,” kata Mulyadi.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Kabupaten Batang, Suprayitno, menjelaskan bahwa pohon beringin tersebut merupakan salah satu saksi sejarah perkembangan Kabupaten Batang dan menjadi ikon Kabupaten Batang karena usianya sudah ratusan tahun.

Menurutnya hingga kini Pemkab Batang tidak berani membersihkan reruntuhan tumbangnya pohon beringin tersebut. Rencananya, sebelum membersihkan pohon tersebut, akan dilakukan doa bersama untuk keselamatan semua warga Kabupaten Batang. “Pohon beringin ini adalah ikon dan simbol kejayaan Pemkab Batang. Makanya kami tidak berani membersihkannya sebelum digelar doa bersama, untuk keselamatan waga Kabupaten Batang,” jelas Suprayitno. (thd/ida)