BERBAGI: Salah satu anggota MCS membagikan takjil kepada pengendara di Jalan Pemuda, kawasan Tugu Muda, kemarin. (NUR CHAMIM/RADAR SEMARANG)
BERBUNTUT PANJANG : Prihadi menunjukkan bekas jahitan akibat terluka setelah dikeroyok warga tak dikenal pada 13 September lalu. Kasus tersebut kini ditindaklanjuti oleh aparat Polres Batang. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERBUNTUT PANJANG : Prihadi menunjukkan bekas jahitan akibat terluka setelah dikeroyok warga tak dikenal pada 13 September lalu. Kasus tersebut kini ditindaklanjuti oleh aparat Polres Batang. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)

BATANG-Perselisihan yang terjadi di tengah masyarakat Batang, masih berbuntut panjang. Rabu (7/11) lalu, warga yang tergabung Gerakan Batang Menyatu menggelar aksi di Pendopo Bupati Batang, menuntut pembubaran Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI) Wilter Jateng. Namun, Kamis (8/10) kemarin, giliran pengurus LSM GMBI Wilter Jateng di Batang, melaporkan kasus pengeroyokan ke Polres Batang.

Menurut Humas GMBI Jateng, Triyono, tujuh orang anggotanya telah dikeroyok warga tak dikenal pada 13 September 2015 lalu. Bahkan, sebagian terpaksa dirawat di Rumah Sakit (RS) QIM. “Kami mendatangi Polres Batang untuk menindaklanjuti laporan GMBI Wilter Batang atas dikeroyoknya tujuh anggota GMBI Wilter Batang oleh warga tak dikenal pada 13 September lalu,” katanya.

Prihadi, 58, warga Desa Depok, Kecamatan/Kabupaten Batang, salah seorang korban pengeroyokan yang sempat dirawat di RS QIM selama 13 hari, mengungkapkan bahwa kejadian tersebut bermula saat dirinya berada di Desa Sigandu dengan rekannya Wahyono, warga Desa Briyan, Kecamatan Batang. Tiba-tiba sekelompok massa langsung mengkeroyoknya, tanpa ada tegur sapa terlebih dahulu.