Dara yang hobi mengaji ini mulai menggunakan make up full di wajahnya ketika SMP. Sebab, saat itu ia memang sering menyanyi di luar kota bersama kelompok bandnya.

”Aku mutusin buat bisa make up wajahku sendiri mulai dari foundie sampe finishing tanpa ibu. Soalnya kasihan ibu kalau harus ikut aku ke mana-mana,” kata putri bungsu dari tiga bersaudara ini.

Mahasiswi jurusan Teknologi Pangan Universitas Diponegoro (Undip) ini mulai menjual jasa make up-nya sejak kuliah semester 1. ”Aku kan mondok (pondok pesantren, Red), nah kakak pesantrenku minta didandanin kayak make up-ku pas nyanyi, terus nyebar mulut ke mulut sampai sekarang,” akunya.

Pada awalnya, Ulfi hanya mematok harga Rp 150 ribu di saat perias lain mematok harga Rp 300 ribu-Rp 400 ribu. ”Kata kakak pesantrenku, make up-ku bagus, ngalahin salon, apalagi pakai make up branded, dengan hargaku yang hanya Rp 15 ribu itu, makanya aku jadi rebutan mbak-mbak yang mau make up, wong murah banget,” kata penyuka warna putih ini.

Harga yang dipatok tersebut dirasa tidak sebanding dengan servis yang ditawarkan, apalagi ia juga bersedia datang ke tempat customer-nya tanpa tambahan biaya sehingga sekarang ia mulai berani mematok harga kurang lebih Rp 225 ribu per orang.

”Mereka bisa request make up, minta soft atau tajem. Selain itu make up-ku stay on dari subuh sampai malem, terus aku pakainya bulu mata palsu yang bisa dipakai berulang-ulang tanpa bikin gatel. Kalau yang pakai hijab bisa dirias biar nggak kelihatan tembem,” promosi gadis kelahiran 19 Desember 1994 ini. (mg26/aro/ce1)