JALAN RUSAK : Jalan menuju lokasi PLTU di Desa Karanggeneng, rusak parah dan sudah sepuluh tahun tidak pernah diperbaiki Pemkab Batang. Sedangkan dana CSR dari PLN hanya janji belaka. (Taufik hidayat/jawa pos radar semarang)
PANEN: Wali Kota SalatigaYuliyanto saat ikut panen raya di Salatiga, kemarin. (Dinar sasongko/jawa pos radar semarang)
PANEN: Wali Kota SalatigaYuliyanto saat ikut panen raya di Salatiga, kemarin. (Dinar sasongko/jawa pos radar semarang)

SALATIGA – Wali Kota SalatigaYuliyanto berharap para petani di Cabean Mangunsari terus menerapkan ilmu dari sekolah lapangan yang diadakan Dinas Pertanian dan Perikanan (Dispertankan). Sebab, dari ilmu itu terbukti bagus karena bisa menghasilkan lebih banyak sekitar 2 ton untuk lahan satu hektar.

“Teknologi pertanian Kota Salatiga juga lebih maju daripada daerah lain, hand traktor hampir dimiliki tiap kelompok tani. Bahakan ada yang telah menerima bantuan lebih dari satu karena jumlah anggota dan luasan lahan lebih besar. Saya berharap bapak-ibu tani untuk terus bekerja keras agar Salatiga mampu swasembda beras,” ujarnya Walikota saat penutupan SLPHT (Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu) Padi, kemarin.

Yuliyanto menuturkan, Salatiga meski kota kecil, tapi bisa memproduksi padi dalam jumlah tinggi. Semua itu tidak terlepas dari peran para petani serta dinas pertanian dan perikanan yang bekerja secara maksimal. “Dengan hasil padi yang lebih banyak, maka harus terus diterapkan. Jangan kembali ke sistem tanam yang lama, karena hasilnya lebih banyak yang menggunakan ilmu moderntambah Yuliyanto.

Kepala Dipertankan Salatiga, Husnani menerangkan, tanaman padi dengan metode dari SLPHT mampu menghasilkan 10,521 ton/Ha. Sedangkan tanpa SLPHT hanya mampu memproduksi 8,110 ton/Ha. “Beberap acara yang dijalankan dalam SLPHT adalah dengan memakai benih berlabel mikongga, pemupukan sesuai anjuran, sistem tanam jajal legowo 2-1, pengairan cukup secara berselang, dan pengendalian hama dan penyakit ramah lingkungan,” terang Husnani.(sas/fth)