TOTAL: Gelandang PSIS, Bakori Andreas (biru) menjadi tumpuan tim Mahesa Jenar saat menghadapi Persis Solo sore ini. (BASKORO SEPTIADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Rahmatul Khafidz menunjukkan foto ayahnya, Ahmad Khalimin Sambudi, yang juga menjadi korban tragedi Mina. (EKO WAHYU BUDIYANTO/ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Rahmatul Khafidz menunjukkan foto ayahnya, Ahmad Khalimin Sambudi, yang juga menjadi korban tragedi Mina. (EKO WAHYU BUDIYANTO/ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)

MIJEN – Satu per satu korban jamaah haji asal Semarang yang hilang pasca tragedi Mina dipastikan meninggal. Kali ini, Ahmad Khalimin Sambudi, 49, warga Perum Mijen Permai Blok C 60 RT 7 RW 7 Mijen, Semarang, dipastikan meninggal. Korban telah teridentifikasi oleh otoritas haji di Arab Saudi, dan masuk daftar jamaah haji asal Indonesia yang meninggal akibat insiden tersebut. Khalimin menjadi jamaah haji ketujuh asal Kota Semarang yang meninggal dalam tragedi berdarah di Mina pada Kamis (24/9) lalu.

Anak kandung korban, Rahmatul Khafidz, 19, mengaku, telah mengetahui kabar duka tersebut. ”Kami menerima kabar duka itu pada Minggu (4/10) pukul 12.00,” kata Khafidz saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di rumah duka, kemarin (5/10).

Selain Khalimin, dalam rombongan yang sama, ibu kandung Khalimin, yakni Suimah, dan tetangganya Rita Saadah, juga dinyatakan meninggal. ”Kalau ibu saya, Karsiah, 41, selamat. Termasuk Paklik dan Bulik juga selamat. Mereka mengalami luka-luka, dan sempat dirawat di rumah sakit di Mina,” ujarnya.

Dijelaskan Khafidz, ayahnya, Khalimin, tercatat dalam kloter SOC 62 B0877075. Berangkat haji ke tanah suci Makkah bersama enam kerabat lain, yakni istri, ibu kandung, adik, adik ipar, serta satu tetangga di perumahan tempat tinggalnya. ”Kami sudah mengikhlaskan semuanya,” katanya.

Khafidz menjelaskan, entah firasat atau bukan, ayahnya sebelum berangkat haji sempat berpesan soal pembagian harta warisan. ”Bapak bilang kalau terjadi apa-apa, nanti tolong (hartanya) dibagi-bagikan. Umur tidak ada yang tahu. Beliau bilang cuma buat jaga-jaga,” ungkap Khafidz.

Menurut dugaan Khafidz, dalam insiden tragis di Mina, handphone milik ayahnya terjatuh saat terjadi desak-desakan. Sebab, sebelum kejadian, selalu berkomunikasi melalui handphone. Namun setelah terjadi insiden langsung lepas kontak.