SAFARI POLITIK: Rusmono Rudi Nuryawan (kanan) berfoto bersama Dewan Pakar DPP PKS Soeripto, baru-baru ini. (RUSMONO FOR JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERJUANG KERAS: Seorang sopir angkot harus memiliki kesabaran tinggi, di antara angkot kosong yang ngetem dan saling menunggu datangnya penumpang di Terminal Johar. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERJUANG KERAS: Seorang sopir angkot harus memiliki kesabaran tinggi, di antara angkot kosong yang ngetem dan saling menunggu datangnya penumpang di Terminal Johar. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Minat masyarakat untuk menggunakan angkutan kota (angkot) semakin berkurang. Akibatnya, pendapatan para sopir angkutan kota (angkot) di Kota Semarang pun terus mengalami penurunan. Kondisi tersebut dipicu oleh banyak hal. Seperti apa?

PULUHAN angkutan kota (angkot) yang ngetem di Terminal Johar, tak lagi sebanding dengan sedikitnya penumpang yang memanfaatkannya. Kalau dulu, penumpang yang mengantre datangnya angkot. Sekarang kebalikannya, justru puluhan angkot menjadi sangat sabar menunggu dan mengantre datangnya penumpang. Bahkan, tanpa menunggu penuh, begitu ada 3 hingga 5 penumpang, angkot tersebut sudah langsung jalan.

Pemandangan tersebut menjadi berbeda ketika naik bus rapid transit (BRT). Penumpangnya rela mengantre dalam waktu yang lama di halte-halte yang tersedia. Bahkan rela berjubel, saat sudah masuk ke dalam BRT yang dilengkapi dengan pendingin. Padahal, jalur tersebut masih dilewati oleh angkot yang dulu menjadi primadona masyarakat Semarang. Namun, saat ini angkot benar-benar semakin tersisih dan tidak terpakai. Kondisi tersebut diperparah dengan banyaknya kendaraan bermotor roda dua maupun kendaraan pribadi roda empat yang menjejali jalanan Kota Semarang.