Klaim JHT Meningkat

201

UNGARAN – Tingginya angka pemutusan hubungan kerja (PHK) dan karyawan yang keluar dari pekerjaan menjadi salah satu penyebab tingginya klaim jaminan hari tua (JHT) di BPJS Ketenagakerjaan Ungaran. Selain itu ditunjang dengan adanya aturan baru yang memudahkan penarikan JHT membuat pengajuan JHT naik hingga 400 persen.

Kepala Kantor BPJS Cabang Ungaran, Yan Dwiyanto mengatakan, pengambilan JHT sesuai PP 46 Tahun 2015, tidak bisa diambil sebelum usia pensiun 56 tahun. Setelah ada revisi yakni PP 60 Tahun 2015 dan Permenaker 19 Tahun 2015, JHT bisa diambil saat tenaga kerja berhenti bekerja dengan masa tunggu satu bulan. Dengan adanya kemudahan tersebut maka jumlah klaim JHT meningkat dari semula hanya 40 klaim perhari menjadi 160 klaim perhari.

“Total jumlah peserta BPJS Ketenagakerjaan sebanyak 360 ribu pekerja. Saat ini ada 60 persen yang mengajukan klaim JHT yakni peserta BPJS yang sudah tidak aktif membayar iuran karena terkena PHK atau resign (keluar kerja). Sisanya sebanyak 40 persen peserta yang masih aktif dan mengajukan klaim tahap I sebesar 10 persen dari saldo kepesertaan yang dimilikinya,” kata Yan Dwiyanto, kemarin.

Ia menambahkan, total nilai klaim JHT sebelum ada aturan baru setiap harinya mencapai sekitar Rp 40 juta. Setelah ada revisi aturan, total klaim mencapai sekitar Rp 460 juta. Sebenarnya jika tidak dibatasi pelayannya, pengajuan klaim bisa tembus 200 kasus perhari. Ditambahkan oleh Yan, sesuai PP 68 Tahun 2009 dan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) 16/PMK.03/2010, pengambilan JHT dari peserta yang berpenghasilan dibawah Rp50 juta, tidak dikenai pajak. Sedangkan penghasilan diatas Rp50 juta kena pajak penghasilan (PPh) sebesar 5 persen. “Untuk pengambilan JHT secara bertahap, pajak progresif diberlakukan untuk pengambilan setelah tahun ketiga dan tahun-tahun berikutnya,” imbuhnya.

Salah seorang peserta BPJS Ketenagakerjaan, Nur Kholis, 30, warga Ungaran Timur menyambut baik adanya kebijakan baru JHT tersebut. Sebab terkena PHK bisa mengambil uang JHT yang dapat digunakan untuk kebutuhan selama mencari pekerjaan lagi. “Saya baru dua tahun kerja dan ikut BPJS, JHT-nya baru sedikit tapi lumayan bisa untuk kebutuhan hidup selama mencari kerja,” ujarnya. (tyo/fth)