Persaingan Hotel di Semarang Masih Sehat

229

SEMARANG – Pembangunan hotel di Kota Semarang terbilang sangat cepat. Belakangan ini, tumbuh belasan hotel baru yang menawarkan keunggulan masing-masing. Padahal, jika ditilik dari kunjungan wistawan, jumlah orang yang datang tidak bertambah. Praktis, hotel-hotel tersebut saling berebut tamu untuk mengisi kamar mereka.

Meski begitu, industri hotel tidak semata merusak harga untuk menggaet tamu. Mereka masih bersaing secara sehat. Berbeda dari Kota Solo. Di sana, harga perhotelan sudah hancur. Bahkan, ada yang menawarkan kamar hotel berbintang dengan harga kisaran Rp 150 ribu.

“Tapi di tempat kami, tetap bertahan di angka Rp 400 ribuan. Karena hotel kami masuk di hotel 4 dan berada di Jalan Slamet Riyadi yang notabene masih di daerah perkotaan,” ungkap Public Relations Hotel Novotel Solo Tiwik Widowati, ketika berkunjung ke kantor redaksi Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (1/10) sore kemarin.

Dikatakannya, meski persaingan makin ketat, hotel di bawah bendera Accor Hotels Grop tetap bisa mendapat porsi yang cukup banyak. “Okupansinya masih bisa mencapai target. Entah untuk kamar, atau ruang meeting,” tuturnya.

Ditambahkan Sales Executive Elisa Saraswati, budaya reservasi kamar lewat telepon masih diminati warga Solo. Meski masih ada juga yang walk in, paling hanya segelintir saja. “Keberadaan biro online seperti Traveloka, Agoda, dan lain sebagainya memang cukup membantu. Tapi masih mengambil porsi sekitar 40 persen. Memang, harga yang ditawarkan lebih murah dari walk in. Tapi lebih murah lagi kalau reservasi lewat telfon, atau ke situsnya Accor Hotels Grop langsung,” tegasnya. (amh/smu)