TRAUMA: Sinur (kiri) salah satu korban selamat tabrakan Kapal Tongkang Ekspres I dengan kapal nelayan Mugi Berkah. (ADENNYAR WYCAKSONO / JAWA POS RADAR SEMARANG)
TRAUMA: Sinur (kiri) salah satu korban selamat tabrakan Kapal Tongkang Ekspres I dengan kapal nelayan Mugi Berkah. (ADENNYAR WYCAKSONO / JAWA POS RADAR SEMARANG)
TRAUMA: Sinur (kiri) salah satu korban selamat tabrakan Kapal Tongkang Ekspres I dengan kapal nelayan Mugi Berkah. (ADENNYAR WYCAKSONO / JAWA POS RADAR SEMARANG)
TRAUMA: Sinur (kiri) salah satu korban selamat tabrakan Kapal Tongkang Ekspres I dengan kapal nelayan Mugi Berkah. (ADENNYAR WYCAKSONO / JAWA POS RADAR SEMARANG)

”Kejadiannya sangat cepat, kami ditabrak dari kiri hingga semua awak terpelanting terjun ke laut. Kami tidak bisa saling menolong, karena dalam posisi kapal terbalik.”
Sinur
Korban Selamat Warga Desa Pidodo Wetan, Patebon

KENDAL – Bagi Sinur, 41, bisa selamat dalam tabrakan kapal tongkang Ekpress 1 dengan kapal nelayan Mugi Berkah adalah sebuah keajaiban. Bagaimana tidak, Sinur bersama 18 nelayan lain sedang sibuk menarik jaring tiba-tiba ditabrak dari arah kiri yang membuat 3 temannya tewas, dan 5 lainnya hingga kini belum ditemukan.

Kepada Jawa Pos Radar Semarang, warga Desa Pidodo Wetan RT 06 RW 01, Kecamatan Patebon ini menceritakan, sebelum kecelakaan tragis terjadi, Rabu (23/9) pagi, ia beraktivitas seperti biasa dengan menyiapkan perlengkapan melaut dengan teman-temannya. Ia bertolak ke laut Jawa lewat dermaga Desa Korowelang, Cepiring.

Sinur mengaku, tidak punya firasat apa pun jika akan terjadi kecelakaan maut yang menewaskan tiga temannya, yakni, Sinuwun, Bonari dan Solekan. ”Sebelum berangkat tidak ada firasat sama sekali, bahkan semuanya goyon-guyon seperti biasa,” katanya.