Polisi Mapping Siswa Bandel

155

BARUSARI – Fenomena tawuran pelajar merupakan masalah klasik tentang kenakalan remaja yang tak kunjung bisa ditangani secara maksimal. Meski tak jarang, para pelajar yang terlibat tawuran diringkus polisi, namun seperti tidak menimbulkan efek jera. Pihak kepolisian pun dibuat ”kecapekan” dalam menangani fenomena tawuran pelajar tersebut.

Metode penanganan kepolisian yang selama ini cenderung terlibat ”kejar-kejaran” dengan pelajar tawuran, dinilai tidak efektif. Kali ini, Satuan Pembinaan Masyarakat (Binmas) Polrestabes Semarang menggandeng Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang untuk terus mencari solusi yang tepat sebagai upaya penanganan tawuran pelajar di Kota Semarang.

”Kami melakukan kerja sama dengan Dinas Pendidikan Kota Semarang. Surat resmi sudah ditandatangani. Oktober (2015) mendatang sudah bisa berjalan,” kata Kepala Satuan Pembinaan Masyarakat (Binmas) Polrestabes Semarang, Kompol Restiana Pasaribu dihubungi Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (25/9).

Menurut Restiana, fenomena kenakalan remaja menjadi masalah kompleks yang penanganannya diperlukan melibatkan peran berbagai pihak. ”Polisi menangani tawuran pelajar secara sendirian, tidak bisa. Tentu harus ada peran serta berbagai pihak, baik Dinas Pendidikan Kota Semarang, kepala sekolah, maupun orang tua pelajar. Saat ini, sudah tidak zamannya lagi, polisi terlibat kejar-kejaran dengan pelajar tawuran,” katanya.

Maka, lanjut Restiana, penanganan tawuran perlu ditanamkan secara dini dengan memuat nilai-nilai pendidikan secara humanis. ”Kami mengajak mereka untuk berkomunikasi membicarakan bagaimana mengelola generasi muda selaku aset bangsa, secara baik dan tepat. Sehingga ditemukan pendekatan-pendekatan secara humanis,” cetusnya.

Dikatakan, dalam kerja sama dengan Dinas Pendidikan Kota Semarang tersebut, pihaknya akan proaktif melakukan sosialisasi terprogram dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat. ”Kami juga akan melibatkan kapolsek-kapolsek untuk terlibat langsung di wilayahnya masing-masing. Perannya sebagai instruktur dalam sosialisasi di sekolah-sekolah di Kota Semarang,” katanya.