Kemacetan mulai terjadi begitu memasuki Kabupaten Pekalongan dari arah Kabupaten Pemalang, hingga Pasar Wiradesa. Betonisasi sepanjang 500 meter yang ada di jalan raya Rembun hingga Siwalan rawan akan kecelakaan karena minimnya rambu dan lampu penerangan. Betonisasi baru pada tahap pengerukan jalan sedalam 40 centimeter, dan sangat membahayakan pengemudi jika tidak hati-hati.

“Harusnya ada rambu lalu lintas yang memberitahukan pengemudi, kalau akan ada betonisasi. Serta ada lampu penerangan jalan yang memadai, ini sangat membahayakan,” ungkap sopir bis umum Batang – Pemalang, Saefudin, warga Desa Kalisalak, Kabupaten Batang.

Kasubag Polres Pekalongan, AKP Aries Tri, menjelaskan pihaknya sudah berkoordinasi dengan pemborong jalan betonisasi, agar kemacetan tidak terjadi terlalu panjang. Menurutnya Polres sudah menempatkan beberapa personel Sat Lantas untuk mengatur arus lintas jika terjadi kemacetan. Termasuk penempatan mobil patroli untuk melakukan rekayasa jalan guna mengurai kemacetan.

“Kemacetan terjadi karena adanya satu jalur dari arah Jakarta ke Pekalongan, dan dari arah Semarang ke Jakarta. Tapi kemacetan bisa diatasi karena pengemudi tidak melakukan aksi saling serobot jalan,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informastika (Dishukominfo), Kabupaten Pekalongan, Muhlisin, Jumat (25/9) menandaskan minimnya lampu penerangan jalan umum (PJU) yang ada di jalur pantura adalah tanggung jawab pemerintah pusat.

“Pihak Dishubkomnfo Kabupaten sudah memberikan laporan terkait padamnya beberapa lampu penerangan jalan umum, kepada Dishubkominfo Pusat di Jakarta, kebetulan pada lampu PJU yang padam ada betonisasi, sehingga agak menganggung pengguna jalan,” tandasnya. (thd/ric)