BERDUKA: Keluarga Sinuwun dan Supriyono yang dirundung kesedihan kemarin. (ISTIMEWA)
BERDUKA: Keluarga Sinuwun dan Supriyono yang dirundung kesedihan kemarin. (ISTIMEWA)
BERDUKA: Keluarga Sinuwun dan Supriyono yang dirundung kesedihan kemarin. (ISTIMEWA)
BERDUKA: Keluarga Sinuwun dan Supriyono yang dirundung kesedihan kemarin. (ISTIMEWA)

KELUARGA besar Sinuwun, 55, warga Desa Pidodo Kulon RT 5 RW 2, Kecamatan Patebon, Kendal pantas berduka. Sebab, keluarga ini kehilangan dua anggota keluarga sekaligus. Sinuwun ditemukan tewas, sedangkan anaknya, Supriyono alias Supri, 33, hingga kemarin masih dinyatakan hilang.

Saat Jawa Pos Radar Semarang mendatangi rumah Sinuwun, Kamis (24/9) kemarin, tampak masih terpasang tenda dengan bendera kuning tanda berduka. Siang kemarin, jenazah Sinuwun memang sudah dikebumikan di pemakaman desa setempat.

Di rumah sederhana berdinding papan itu, Sinuwun tinggal bersama istrinya, Wasinah, 52, dan anaknya, Supriyono, 33, serta menantunya, Sri Sutiyotanti, 30, yang tak lain adalah istri Supriyono. “Monggo Mas masuk, benar ini rumahnya Pak Sinuwan atau Pak Sinuwun,” ujar Wasinah, istri Sinuwun dengan mata berkaca-kaca.

Wasinah mengaku shock saat dikabari suaminya tewas dan anak sulungnya, Supriyono alias Supri, dinyatakan hilang dalam kecelakaan kapal tersebut. Apalagi Sinuwun adalah tulang punggung keluarga. “Siapa yang nggak sedih Mas. Bapake meninggal, anake sampai sekarang belum ketemu. Pak Sinuwun itu sudah menjadi nelayan sejak muda. Meski pendapatan sebagai nelayan pas-pasan, tapi bapak tetap berusaha memenuhi kebutuhan rumah tangga,” tuturnya.