OPTIMALISASI MEDIA: Beberapa narasumber dalam sarasehan peran media dalam Pilkada yang digelar PWI Jateng di gedung Gradika Bhakti Praja, kemarin. (AHMAD FAISHAL/JAWA POS RADAR SEMARANG)
OPTIMALISASI MEDIA: Beberapa narasumber dalam sarasehan peran media dalam Pilkada yang digelar PWI Jateng di gedung Gradika Bhakti Praja, kemarin. (AHMAD FAISHAL/JAWA POS RADAR SEMARANG)
OPTIMALISASI MEDIA: Beberapa narasumber dalam sarasehan peran media dalam Pilkada yang digelar PWI Jateng di gedung Gradika Bhakti Praja, kemarin. (AHMAD FAISHAL/JAWA POS RADAR SEMARANG)
OPTIMALISASI MEDIA: Beberapa narasumber dalam sarasehan peran media dalam Pilkada yang digelar PWI Jateng di gedung Gradika Bhakti Praja, kemarin. (AHMAD FAISHAL/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Media massa hingga saat ini dinilai efektif untuk membentuk dan mengarahkan opini publik tentang pasangan calon tertentu dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak 2015. Namun, pengamat komunikasi politik dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang M. Yulianto menilai masih banyak media massa yang cenderung hanya menampilkan berita tunggal.

”Artinya, sebagai pemberi informasi kepada masyarakat tidak memberikan keberimbangan informasi. Sehingga menjadi tidak baik bagi calon pemilih karena dari sisi kontennya hanya menonjolkan dan mengarahkan kepada salah satu pasangan calon tertentu secara sepihak,” ujarnya dalam sarasehan peran media dalam Pilkada yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jateng, di gedung Gradika Bhakti Praja, Gubernur, kemarin (22/9).

Ia menjelaskan, keberimbangan harus meliputi isi pemberitaan dan sudut pandang. Hal ini tentu melibatkan sikap orang yang di dalamnya. Jika tidak dimbangi teknik cover both side, maka yang terjadi adalah tendensi pada calon tertentu. Misalnya melalui headline yang ekpresif. ”Jika ini terjadi, tentu membuat pemilih tidak cerdas. Karena tidak memiliki referensi untuk membuat pilihan,” imbuhnya.